Gubernur Klaim Sudah Kirim Logistik Pengungsi Tsunami, Faktanya

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jamiah, 60 tahun, warga Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten, mencari uang Rp 100 ribu miliknya yang disimpan di saku sebuah baju pada Senin pagi, 24 Desember 2018. Baju tersebut telah tertimbun reruntuhan bangunan. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Jamiah, 60 tahun, warga Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten, mencari uang Rp 100 ribu miliknya yang disimpan di saku sebuah baju pada Senin pagi, 24 Desember 2018. Baju tersebut telah tertimbun reruntuhan bangunan. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Serang- Gubernur Banten Wahidin Halim mengklaim sudah mendistribusikan logistik untuk para pengungsi tsunami Selat Sunda satu hari setelah kejadian tsunami pada Sabtu malam, 22 Desember 2018. "Termasuk ke wilayah terisolisir, akses dan bantuan logistik sudah dikirim sejak Ahad malam Senin," kata Wahidin Halim kepada Tempo, Selasa, 25 Desember 2018.

    Logistik didistribusikan oleh Dinas Sosial Provinsi Banten melalui tujuh dapur umum lapangan untuk para pengungsi. Wahidin mengatakan sejak mendengar informasi Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang terisolir, ia langsung berkoordinasi dengan Danrem Banten. "Sumur terisolir karena akses terputus, tapi akses sudah dibuka sejak Ahad sore, Danrem Banten memerintahkan Kopasus dan Batalyon 320."

    Baca: Akses Sulit ke Sumur Setelah Tsunami, Begini ...

    Wahidin mengatakan bantuan logistik sudah mengalir ke Sumur sejak Ahad malam Senin dengan dikoordinir oleh Danrem Banten. “Logistik sudah masuk ke Sumur, dapur umum lapangan ada di Desa Kertajaya." Dapur umum lapangan ini merupakan dapur umum mandiri masyarakat. Posko dapur umum ini berada di Desa Kertajaya, di depan kantor penyuluh KB.

    Keterangan Gubernur Halim berbeda dengan pantauan lapangan Tempo yang mendatangi Kecamatan Sumur. Hingga Senin siang kemarin, 24 Desember 2018, belum ada posko di kecamatan itu. Rumah-rumah yang rusak tak berbentuk menjadi pemandangan biasa di Kecamatan Sumur, Banten. Penduduk yang sudah mulai kembali ke Kecamatan Sumur, mengeluh kekurangan logistik sejak tsunami Selat Sunda, Sabtu malam, 22 Desember 2018.

    Baca: Menembus Kecamatan Sumur yang Diterjang Tsunami Selat Sunda ...

    Untuk makan, penduduk mengaku memungut makanan-makanan yang tertimbun puing-puing atau reruntuhan bangunan. Jamiah, 60 tahun, misalnya, menjajal peruntungan di sekitar reruntuhan bekas rumahnya. Ia menemukan sebungkus mi instan. Mi itu akan dimakannya mentah-mentah. Musababnya, ia kesulitan mencari air bersih untuk memasaknya. Selain itu, kompor-kompor tak berfungsi akibat tertimbun reruntuhan.

    Tim medis pun minim. Menurut penduduk, Puskesmas Kecamatan Sumur tidak beroperasi dengan optimal. Sehingga beberapa warga yang mengalami luka-luka belum memperoleh penanganan. Penduduk juga kesulitan memperoleh air bersih setelah tsunami Selat Sunda.

    AYU CIPTA | DEWI NURITA | FRANCISCA CHRISTY ROSANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mengering di Sana-sini

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengeluarkan peringatan dini bahaya kekeringan untuk wilayah Provinsi Banten dan Provinsi DKI Jakarta.