Cerita Dokter yang Minim Tenaga Obati Korban Tsunami Selat Sunda

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Personil TNI, Basarnas dan Relawan melakukan pencarian korban di reruntuhan bangunan akibat bencana Tsunami di Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Lampung, Ahad, 23 Desember 2018.  ANTARA/Ardiansyah

    Personil TNI, Basarnas dan Relawan melakukan pencarian korban di reruntuhan bangunan akibat bencana Tsunami di Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Lampung, Ahad, 23 Desember 2018. ANTARA/Ardiansyah

    TEMPO.CO, Banten - Pradipta Aditya, seorang dokter yang bertugas di Klinik Cikadu di Desa Tanjungjaya, Panimbang, Pandeglang, Banten mengatakan beberapa korban tsunami Selat Sunda mengalami robek di bagian kepala dan memar di badan. "Ada yang robek di kepala kurang lebih 4 cm dan dalam kurang lebih satu setengah cm. Di pipi perkiraan juga retak. Itu orang PKL di Hotel Tanjung Lesung," kata dia, Ahad, 23 Desember 2018.

    Baca: Gaun Pink dan Mayat yang Terjepit Korban Tsunami Tanjung Lesung

    Menurut dia, banyak korban mengalami luka-luka akibat terseret oleh gelombang tsunami. Adapun Jarak antara lokasi bencana tsunami di Tanjung Lesung resort ke kliniknya sekitar 5 kilometer.

    Pada saat kejadian, Pradipta mengatakan dirinya sedang tidak berada di klinik saat tsunami Tanjung Lesung terjadi. "Saya di Jakarta kalau sudah masuk waktu libur dan klinik pada hari Sabtu hanya buka setengah hari," kata Pradipta.

    Pradipta mengatakan baru mengetahui kejadian itu pada sekitar pukul 23.00 WIB setelah dikabari oleh salah satu paramedis yang berada di sana. "Saat itu saya sedang di luar rumah lagi ngobrol sama teman-teman," kata dia.

    Mendengar kejadian itu, Pradipta langsung meminta agar klinik dibuka untuk para korban. Dia pun langsung beranjak pulang meninggalkan teman-temannya dan segera bersiap menuju Klinik untuk menangani para korban tsunami. "Saya ajak istri saya yang juga dokter," kata dia.

    Pradipta dan istrinya tiba di sana sekitar pukul Ahad 03.00 WIB. Di sana, kata dia, sudah ada puluhan korban tsunami Tanjung Lesung yang terkapar sedangkan tenaga medis terbatas "Hanya ada tujuh orang. Tiga dokter sisanya paramedis," ujar dia.

    Pradipta mengatakan para korban telah mendapat penanganan dini. Tapi, lantaran peralatan tak memadai, mereka kemudian dilarikan di antaranya ke RSUD Berkah, Pandeglang dan Puskesmas Panimbang. Sebagian korban tsunami Tanjung Lesung juga telah dijemput oleh sanak saudara.

    Baca: Tsunami Selat Sunda, Relawan Masuk ke Pedalaman Tanjung Lesung

    Lewat siaran pers pada Ahad sore, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho mengatakan korban meninggal akibat tsunami Selat Sunda berjumlah 222 orang. Sementara, 843 orang luka-luka dan 28 orang hilang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    WhatsApp Pay akan Meluncurkan E - Payment, Susul GoPay dan Ovo

    WhatsApp akan meluncurkan e-payment akhir tahun 2019 di India. Berikutnya, WhatsApp Pay akan melebarkan layanannya ke Indonesia.