Ayah Jokowi Pernah Jualan Bambu dan Jadi Sopir Bus Kota

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi bersama penulis buku

    Presiden Jokowi bersama penulis buku "Jokowi Menuju Cahaya" Alberthiene Endah (kedua kanan), perwakilan penerbit Tiga Serangkai Siti Aminah (kedua kiri) dan CEO Mayapada Dato Sri Tahir (kiri) saat peluncuran buku di Jakarta, Rabu, 13 Desember 2018. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi terlahir dari pasangan suami-istri, Wijiatno Notomiarjo dan Sujiatmi. Ia mengenang ibunya kerap menyalakan tungku di pagi buta dan membuatkan sarapan sederhana untuk keluarga.

    Baca: Jokowi Terlahir dengan Nama Mulyono

    "Bapak saya, Wijiatno Notomiarjo, kerap telah menghilang di pagi hari. Ia sudah bertarung mencari rezeki. Ia berjualan bambu dan kayu di lapak sederhana dalam pasar tak jauh dari rumah," kata mantan Gubernur DKI Jakarta ini dalam buku Jokowi Menuju Cahaya karya Elberthiene Endah, yang diluncurkan pada Kamis, 13 Desember 2018.

    Dalam buku itu diceritakan Jokowi menghabiskan masa kecilnya dengan tinggal di rumah bilik di pinggir kali. Ia dan orang tuanya kerap berpindah-pindah kontrakan. "Mungkin karena permukiman di kawasan kumuh seperti itu biaya kontraknya paling murah dan mampu dibayar Bapak," katanya.

    Mantan Wali Kota Solo ini menceritakan bahwa ayahnya setengah mati berjuang menghidupi keluarga, istri, dan empat anaknya. Jokowi memiliki tiga adik perempuan.

    Baca: Cerita Jokowi Hidup di Pinggir Kali dan di Tengah Hutan

    Saat menetap di bantaran Kali Anyar, ayahnya berjualan bambu dan kayu di Pasar Gilingan, tak jauh dari rumahnya. "Kayu dan bambu dihaluskan Bapak, diserut dan digergaji. Ada saja yang membutuhkan itu untuk membuat perkakas atau bahan membuat bangunan," ujarnya.

    Menurut dia, ketegaran sang ayah dalam menekuni usaha menjadi inspirasi dalam hidupnya. Wijiatno adalah contoh bagaimana wong cilik berjuang untuk survive tanpa uluran bantuan siapa pun. Tidak ada yang menyodorkan dana untuk modal, juga tidak ada yang memberikan bantuan area berjualan.

    Selain berdagang, Wijiatno juga pernah menjadi sopir bus kota. Ketika sibuk menjadi sopir, ibu Jokowi yang mengurusi penjualan bambu dan kayu. Kedua orang tuanya bekerja keras mengumpulkan uang untuk membayar kontrakan rumah, setelah rumah di bantaran Kali Pepe digusur.

    "Bapak nyaris selalu pulang larut malam, karena ia mengerahkan segenap tenaga dan waktunya untuk menyopir bus," ucapnya.

    Baca: Darwis Triadi Memotret Jokowi: Dia Serahkan Total kepada Saya

    Suatu waktu, orang tuanya mampu menggontrak rumah di kawasan Manahan, dekat dengan pusat Kota Solo. Sejak itu, keluarganya tidak lagi menempati rumah di banyaran sunggai.

    Kehidupan perekonomian keluarga Jokowi membaik seiring berjalannya waktu. Ayahnya juga memberanikan diri membuka bengkel usaha kayu. Menurut Jokowi, kakek dan saudara-saudara ayahnya juga menekuni bisnis kayu, seperti membuat perabot atau mebel. Usaha ayahnya itu kemudian berjalan cukup baik, meski tak besar.

    "Setelah beberapa tahun ia menekuni pekerjaan itu, akhirnya uang terkumpul untuk membeli rumah yang sangat mungil dan sederhana. Kami girang bukan kepalang," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mengering di Sana-sini

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengeluarkan peringatan dini bahaya kekeringan untuk wilayah Provinsi Banten dan Provinsi DKI Jakarta.