Jumat, 16 November 2018

Penyelam Pencari Lion Air yang Tewas Sempat Posting soal Takdir

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Syahrul Anto (tengah atas) berfoto dengan tim Basarnas pada 2015. Saat ini, jenazahnya telah dibawa ke rumah duka di Surabaya. Facebook.com/@Syachrul Anto

    Syahrul Anto (tengah atas) berfoto dengan tim Basarnas pada 2015. Saat ini, jenazahnya telah dibawa ke rumah duka di Surabaya. Facebook.com/@Syachrul Anto

    TEMPO.CO, Surabaya - Syachrul alias Syahrul Anto, 48 tahun, penyelam Indonesia Diving Rescue Team, yang meninggal saat pencarian pesawat Lion Air JT 610 di Tanjung Karawang Jumat, 2 November 2018, sempat memposting kata-kata bijak soal takdir ke grup WhatsApp keluarga besarnya.

    Baca: Penyelam Pencari Korban Lion Air Terlibat Pencarian Air Asia

    Postingan itu tertera waktunya pada Kamis, 1 November 2018 pukul 01.30. Di akhir pesannya, ia membubuhkan tagar Kapal Sadewa 231. Sehari kemudian Syachrul dinyatakan meninggal dengan posisi mengambang.

    “Ini postingan dia yang terakhir di grup keluarga,” kata kakak kandung Syachrul, Ratna, saat ditemui di rumah duka, Jalan Bendul Merisi Utara VIII Nomor 41, Kecamatan Wonocolo, Surabaya, Sabtu, 3 November 2018.

    Inti dari postingan Syachrul menyebutkan bahwa tiap manusia mempunyai takdirnya sendiri-sendiri. Tak terkecuali calon penumpang pesawat yang hendak terbang. “Setiap manusia bakal menjemput takdinya,” begitu salah satu bagian postingan Syachrul.

    Baca: Lion Air JT 610 Dicari, 4 Korban Teridentifikasi Sudah Diserahkan

    Ratna berujar sebelum pergi ke Tanjung Karawang, Syachrul sempat berpamitan tiga kali. Ratna awalnya tak menyangka Syachrul akan bergabung dalam misi pencarian korban pesawat Lion Air yang jatuh itu. Sebab, belum lama adiknya pulang dari haji. Setelah itu ia langsung ke Palu untuk membantu tim SAR mencari korban gempa bumi dan tsunami. “Padahal kakinya dalam  kondisi sakit,” ujarnya.

    Kakak ipar Syachrul yang juga suami Ratna, Haris Aziz, menuturkan almarhum memang punya kepedulian yang tinggi dalam hal kemanusiaan. Pada 2014 misalnya, Syachrul juga terlibat dalam pencarian korban pesawat Air Asia QZ 8501 rute Surabaya-Singapura yang jatuh di perairan Pangkalan Bun. Di luar kepeduliannya yang tinggi pada korban bencana, Syachrul juga dikenal taat beribadah.

    Syachrul anak nomor empat dari tujuh bersaudara pasangan Idrus dan Rabiah. Kepergiannya meninggalkan istri Linda Kurnia dan putri semata wayang Jihan Fialisa. Jenazah Syachrul dimakamkan di Pemakaman Islam Bendul Merisi Surabaya Sabtu pagi kendati ia warga perumahan Green Palm, Jalan Lumbu, Kota Makassar. “Atas permintaan ibu, almarhum dimakamkan di Surabaya,” kata Haris.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.