Sabtu, 15 Desember 2018

Demokrat: Kami Tolak Sandiaga Uno Cawapres Prabowo, Karena...

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto memberi keterangan pers seusai pertemuan tertutup di kediaman Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara, Jakarta, Senin, 30 Juli 2018. Dalam pertemuan tersebut, Partai Demokrat resmi berkoalisi dengan Partai Gerindra dalam pilpres 2019. TEMPO/Subekti.

    Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto memberi keterangan pers seusai pertemuan tertutup di kediaman Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara, Jakarta, Senin, 30 Juli 2018. Dalam pertemuan tersebut, Partai Demokrat resmi berkoalisi dengan Partai Gerindra dalam pilpres 2019. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan mengungkapkan alasan partainya menolak sosok Sandiaga Uno sebagai calon Wakil Presiden atau Cawapres Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra, di pilpres 2019. "Pertama, enggak pernah dibicarakan. Kedua ada sesuatu," kata Syarief di rumah Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, Jalan Mega Kuningan Timur VII, Jakarta Selatan, Jumat, 10 Agustus 2018.

    Baca: Gerindra: Cawapres Sebelah Orang Tua, Cawapres Prabowo Anak Muda

    Menurut Syarief, ketimbang disebut curang, langkah Prabowo bisa dibilang tak transparan. Sebab, Prabowo melakukan komunikasi dengan banyak pihak tanpa sepengetahuan Demokrat. Karena itu, para petinggi Partai Demokrat pun kaget mengetahui Sandiaga lah yang menjadi calon wakil presiden. "Tapi apalah arti kaget, karena itu hak prerogatif Pak Prabowo," katanya.

    Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Roy Suryo juga mengatakan bahwa sikap Prabowo tidak elok dalam etika berpolitik. Selama ini, kata Roy, Partai Demokrat telah menjalin komunikasi yang baik dengan Gerindra dalam sebulan terakhir. "Tetapi yang kami khusus satu kamar saja, tetapi tiba-tiba ada informasi di seberang melakukan komunikasi dengan banyak kamar. Itu kan tidak pas, tidak elok," ujarnya.

    Keputusan Prabowo menunjuk Sandiaga pun membuat Demokrat memutuskan mundur dari koalisi tersebut. Menurut Roy, alasannya telah diungkapkan oleh Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief.

    Andi Arief sebelumnya menyebut Prabowo sebagai jenderal kardus pada malam sebelum pengumuman cawapres. "Jenderal kardus punya kualitas buruk. Kemarin sore bertemu Ketum Demokrat dengan janji manis perjuangan. Belum dua puluh empat jam mentalnya jatuh ditubruk uang Sandi Uno untuk meng-entertain PAN dan PKS," kata Andi Arief melalui akun Twitternya @AndiArief_, Rabu, 8 Agustus 2018 pukul 21.50 WIB.

    Andi Arief juga menuding Sandiaga menggelontorkan uang Rp 1 triliun untuk Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) dengan jatah masing-masing Rp 500 miliar. Tudingan ini telah dibantah oleh sejumlah politikus Partai Gerindra. Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan menyanggah menerima uang dari Sandiaga. Dia menyebut tudingan itu merupakan kabar bohong alias hoaks dan tidak diperlu digubris.

    Baca juga: Presiden PKS Sebut Sandiaga Santri di Era Post-Modernisme

    Roy Suryo mempersilakan sejumlah pihak yang meragukan cuitan Andi Arief. Namun, Roy membela bahwa Andi memiliki dasar untuk berbicara soal pilihan Cawapres Prabowo. "Ada yang katakan hoax biarkanlah nanti hukum yang bicara, fakta yang bicara karena Mas Andi Arief saya kira punya dasar melakukan," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sayap OPM Kelompok Egianus Kogoya Meneror Pekerjaan Trans Papua

    Salah satu sayap OPM yang dipimpin oleh Egianus Kogoya menyerang proyek Trans Papua yang menjadi program unggulan Jokowi.