Pelaku Penyerangan Novel Baswedan Muncul Kembali Karena Backing

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyidik senior KPK Novel Baswedan dan Ketua Wadah Pegawai KPK Yudi Purnomo Harahap seusai salat dzuhur di Masjid Jami Al-Ihsan, Kelapa Gading, Jakarta, Ahad, 17 Juni 2018. TEMPO/Budiarti Utami Putri.

    Penyidik senior KPK Novel Baswedan dan Ketua Wadah Pegawai KPK Yudi Purnomo Harahap seusai salat dzuhur di Masjid Jami Al-Ihsan, Kelapa Gading, Jakarta, Ahad, 17 Juni 2018. TEMPO/Budiarti Utami Putri.

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengacara penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan, Muhammad Isnur menduga ada orang besar yang melindungi pelaku penyiraman kliennya. “Dugaan Novel di situ. Novel kan pernah menduga kalau ada yang membackup itu Jenderal karena itu mereka berani datang lagi,” kata Isnur saat dihubungi, Selasa, 19 Juni 2018.

    Sebelumnya, Novel mengaku masih mendapat teror sepulang menjalani operasi mata di Singapura. Dia mengatakan melihat terduga pelaku penyerangan berada di seberang rumahnya saat baru sampai di Indonesia pada 22 Februari 2018. “Saya pulang hari pertama tanggal 22 Februari, pelakunya di depan situ,” kata dia di kediamannya di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Ahad, 17 Juni 2018.

    Baca: Pengusutan Penyerangan Novel Baswedan Tersendat

    Isnur menuturkan kemunculan kembali pelaku di kediaman Novel memiliki motif teror. Dia menduga pelaku ingin menantang Novel, sekaligus menunjukan bahwa perkara Novel tak bisa dibongkar. “Pelaku seolah ingin bilang ‘lu enggak bisa apa-apa’, itu bagian dari perang psikologis,” kata dia.

    Dia menganggap masih berkeliarannya para pelaku juga merupakan pelecehan terhadap hukum. “Itu bentuk dari pelecehan hukum bahwa hukum tidak berkutik menangkap pelakunya,” kata dia.

    Novel Baswedan disiram air keras oleh dua pelaku tak dikenal di dekat rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada 11 April 2017. Penyerangan itu terjadi usai Novel melaksanakan salat subuh di Masjid Al-Ihsan yang berjarak sekitar tujuh rumah dari kediamannya. Mata kiri Novel mengalami kerusakan 95 persen akibat cairan korosif tersebut. Dia harus menjalani operasi di Singapura untuk memulihkan matanya.

    Beberapa kali Novel mengatakan dugaan soal adanya oknum jenderal polisi di balik penyerangan terhadap dirinya. Dalam wawancara dengan Tempo pada Juni 2017, Novel mengatakan jenderal itu berperan mengaburkan fakta dan bukti peristiwa penyiraman air keras. “Ini informasi benar meski saya tak bisa bilang bagaimana saya mendapatkannya,” kata Novel.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.