Obat Sakit Jiwa Mahal

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Obat sakit jiwa generasi baru sangat mahal, akibatnya saat ini banyak penderita gangguan kesehatan jiwa yang masih mengkonsumsi obat generasi lama meski efek sampingnya besar. Obat generasi lama, kata Ketua Pengurus Pusat Persatuan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia Syamsulhadi, sangat murah. “Hanya 200 hingga 400 rupiah per butirnya,” ujarnya saat ditemui Tempo usai menghadiri seminar Keragaman Budaya Mempunyai Dampak Terhadap Kesehatan Jiwa di Departemen Kesehatan, Senin. Pada obat generasi baru harga ini melonjak menjadi 75 ribu rupiah perbutirnya (2,25 juta perbulannya). Meski obat lama harus dikonsumsi 3 kali sehari dan obat generasi baru hanya perlu dikonsumsi satu kali, tetap saja biaya yang dikeluarkan sangat jauh bedanya. Obat generasi lama memiliki efek samping seperti tremor, badan kaku, kemampuan kognitif berkurang, tekanan darah turun, bahkan bisa menyebabkan Sindrom Neuroleptik Maligna (SNM) yang menimbulkan panas hingga meninggal. Sebenarnya, kata Syamsulhadi, ada beberapa terapi selain pengobatan melalui obat, seperti penyetruman. Namun tetap saja biaya yang harus dikeluarkan cukup mahal. Pemerintah, katanya, harus membantu menurunkan harga obat ini. “Misalnya dengan membeli bahan di luar negeri dan membuat obat di perusahaan milik negara,”. Meski jumlah penderita gangguan kesehatan jiwa hanya 1 diantara 1000 penduduk, tetapi angka gangguna jiwa ringan seperti depresi, kecemasan, gangguan psikomatik seperti maag, sesak napas tanpa gangguan kesehatan angkanya sangat besar. 1 diantara 4 penduduk namun tetap saja pemerintah tidak memprioritaskan penanganan gangguan kesehatan jiwa. Saat ini, tambahnya, Persatuan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia masih berusaha melobi pemerintah agar mau menurunkan harga obat generasi baru. Reh Atemalem Susanti

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.