Polri Bantah Teror Bom Rekayasa Pengalihan Isu

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi berjaga saat berlangsung penggeledahan di rumah terduga teroris di kawasan Dukuh Pakis,  Surabaya, 17 Mei 2018. Penggeledahan dalam rangka penyelidikan lanjutan pascapenangkapan terduga teroris pasca Bom Surabaya. ANTARA/Zabur Karuru

    Polisi berjaga saat berlangsung penggeledahan di rumah terduga teroris di kawasan Dukuh Pakis, Surabaya, 17 Mei 2018. Penggeledahan dalam rangka penyelidikan lanjutan pascapenangkapan terduga teroris pasca Bom Surabaya. ANTARA/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Jakarta - Polri menegaskan teror bom yang terjadi selama ini bukan rekayasa untuk mengalihkan isu seperti banyak disebut di media sosial. Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto mengatakan teror bom benar adanya.

    "Siapa yang mau merekayasa mengebom orang sampai ususnya terburai kemudian dagingnya terpisah kecil-kecil dan tersebar kemana-mana," ujar Setyo di Hotel Pullman, Jakarta, Selasa, 22 Mei 2018.

    Baca: Antisipasi Teroris, Polisi Awasi Kelompok Mencurigakan di Bekasi

    Setyo mengetahui dengan jelas betapa mengerikan teror bom. Dia merupakan saksi mata pengeboman Hotel J.W. Marriott Jakarta pada 2009.

    Setyo saat itu masih bertugas di Polda Metro Jaya. Saat hendak berangkat kerja, dia mendengar laporan soal bom. Tiba di lokasi tak lama setelah bom meledak, Setyo melihat sendiri potongan tubuh korban meninggal dan luka di korban selamat.

    Dia juga menyaksikan kondisi pasca ledakan bom di Kampung Melayu pada 2017 lalu. Dia melihat situasi yang tak jauh berbeda dengan di J.W Marriot sebelumnya. "Tidak ada sutradara sehebat apapun di Hollywood yang bisa merekayasa itu," ujarnya.

    Peneliti Terorisme Ridlwan Habib menilai adanya pemikiran bahwa teror bom direkayasa membuktikan ekosistem teror di Indonesia masih sangat subur. Pemerintah perlu mengambil langkah khusus untuk menghapus pemikiran tersebut.

    Baca: Polisi Tangkap Orang yang Diduga Menyebarkan Hoax Bom Duren Sawit

    Ridlwan mengatakan teror bom yang terjadi selama ini benar-benar dilakukan kelompok teroris. Kelompok ini hanya menganggap jihad dengan cara meledakkan diri sebagai panggilan. "Ini masalah ideologi," katanya.

    Salah satu yang dia sarankan adalah mempertemukan tokoh-tokoh berpengaruh di Indonesia dengan para narapidana teroris. "Bisa dipertemukan dan disiarkan akun media sosial pemerintah yang aktif," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.