Jokowi: Musuh Nomor Satu Kita Buang-buang Waktu

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo seusai membuka Musyawarah Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, 30 April 2018. TEMPO/Ahmad Faiz

    Presiden Joko Widodo seusai membuka Musyawarah Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, 30 April 2018. TEMPO/Ahmad Faiz

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan musuh bangsa Indonesia terbesar saat ini adalah buang-buang waktu. Alasannya, waktu adalah komoditas yang paling mahal di dunia.

    Seiring perkembangan teknologi, kata Jokowi, waktu serasa berjalan begitu cepat. Selain itu, kemajuan teknologi membuat potensi produktivitas yang bisa mengisi waktu semakin tinggi.

    Namun, kata Jokowi, banyak yang tidak bisa memanfaatkan potensi produktivitas ini dan menggarapnya dengan baik. "Artinya, dengan teknologi sekarang berarti yang namanya waktu benar-benar menjadi komoditas yang mahal sekali kalau kita bisa memanfaatkan itu," ujarnya saat membuka Musyawarah Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) 2018 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin, 30 April 2018.

    Baca: Presiden Jokowi: Kalau Mau Kaya, Cari Racun Kalajengking

    Jokowi menuturkan contoh buang-buang waktu adalah cara kerja Indonesia saat ini yang bertele-tele dan banyak dengan perizinan. Ia menyebut masih banyak ditemui di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota, rantai birokrasi yang panjang dan berbelit-belit sehingga menyulitkan investasi masuk.

    Menurut Jokowi, saat ini tidak berlaku lagi rumus yang besar mengalahkan yang kecil melainkan yang cepat mengalahkan yang lambat. "Dan kalau yang namanya waktu menjadi komoditas yang mahal, artinya musuh nomor satu kita adalah buang-buang waktu," kata dia.

    Baca: 3,5 Tahun Jokowi-JK, Menaker Klaim Penciptaan Lapangan Kerja Melebihi Target

    Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menyinggung soal nilai ekspor dan investasi Indonesia yang kalah dibandingkan Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Ia meminta para pimpinan lembaga dan kepala daerah tidak terjebak dengan rutinitas dan berani melakukan inovasi. "Oleh sebab itu kalau mau ada investasi buka lebar-lebar. Apalagi kalau orientasi ekspor, udah tutup mata jangan lagi izinnya ruwet, ditinggal kita nanti," kata Jokowi.

    Rutinitas yang dimaksud Jokowi adalah banyaknya diskusi yang bertele-tele, berdebat tanpa ujung, dan proses perizinan yang memakan waktu hingga tahunan. "Kalau bapak ibu keluarin izin masih minggu, bulan, tahun, lupakan kalau kita mau maju," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?