Selasa, 17 Juli 2018

DPR Anggap Facebook Gagal Lindungi Data Pengguna

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Kebijakan Publik Facebook Indonesia Ruben Hattari (kanan) dan Vice President and Public Policy Facebook Asia Pacific Simon Milner (kiri) mengikuti rapat dengar pendapat umum dengan Komisi I DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 17 April 2018. Rapat ini membahas bocornya satu juta lebih data pengguna Facebook di Indonesia. ANTARA/Dhemas Reviyanto

    Kepala Kebijakan Publik Facebook Indonesia Ruben Hattari (kanan) dan Vice President and Public Policy Facebook Asia Pacific Simon Milner (kiri) mengikuti rapat dengar pendapat umum dengan Komisi I DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 17 April 2018. Rapat ini membahas bocornya satu juta lebih data pengguna Facebook di Indonesia. ANTARA/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Informasi Dewan Perwakilan Rakyat mempermasalahkan perlindungan data pribadi pengguna dalam skandal kebocoran data Facebook. Anggota Komisi Informasi dari Fraksi PDI Perjuangan, Andreas Hugo Parera, menilai Facebook telah melakukan pelanggaran dengan adanya pembiaran bocornya data pengguna.

    "Facebook tidak bisa melepaskan diri dari tanggung jawab pengamanan data. Dalam case ini, Facebook seperti melakukan pembiaran," kata Andreas saat rapat dengar pendapat umum di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Selasa, 17 April 2018.

    Baca: Begini Klarifikasi Facebook atas Kasus Cambridge Analytica di DPR

    Dalam rapat dengan Komisi Informasi, Kepala Kebijakan Publik Facebook untuk Indonesia Ruben Hattari mengatakan penyalahgunaan data pengguna oleh Cambridge Analytica bukanlah kebocoran sistem Facebook. "Kejadian ini bukanlah kejadian di mana pihak ketiga menembus sistem Facebook atau berhasil lolos dari perangkat pengamanan data yang kami miliki," katanya.

    Ia menjelaskan bahwa Aleksander Kogan, pengembang aplikasi dari #thisisyourdigitallife, mendapatkan data pengguna Facebook yang kemudian diberikan ke Cambridge Analytica. Facebook tak memberikan izin atau menyetujui pemindahan data tersebut. "Hal ini merupakan pelanggaran kebijakan platform Facebook," kata Ruben.

    Baca: Perwakilan Masyarakat Sipil Asia Tenggara Layangkan Surat Terbuka untuk Facebook

    Meski membantah adanya kebocoran, menurut Andreas, pernyataan Facebook tersebut seolah menggampangkan aspek perlindungan data pribadi pengguna. "Kejadian ini memang bukan menembus sistem Facebook, tapi bentuk pelanggaran kepercayaan dan kegagalan melindungi data pengguna," ujarnya. Andreas berpendapat data pribadi pengguna Facebook rentan disalahgunakan.

    Anggota Komisi Informasi dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Sukamta, mempertanyakan persoalan kerja sama antara Facebook dan Cambridge Analytica. Terlebih lagi, persoalan muncul empat tahun berselang sejak penyalahgunaan data terjadi pada 2014. "Jika tidak diungkap media, apakah Facebook akan melakukan perubahan dan bertanggung jawab atas penggunaan data ini?" katanya.

    Vice President of Public Policy Facebook untuk Asia-Pasifik Simon Milner mengatakan, pada saat data pengguna bocor, Facebook tidak memiliki hubungan dengan Cambridge Analytica sama sekali. Hubungan yang terbangun adalah antara Kogan dan Cambridge Analytica. "Tidak ada kerja sama, tidak ada nota kesepahaman yang tersusun, dan tidak ada dokumen apa pun yang mengaitkan Facebook dan Cambridge Analytica," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Prancis Menjadi Juara Piala Dunia 2018, Mengalahkan Kroasia

    Tim Nasional Prancis mengangkat trofi Piala Dunia 2018 setelah menekuk Kroasia dengan skor 4-2 dan menorehkan pelbagai catatan menarik.