Jokowi Batal Kunjungi Pasar Pingit, Menteri Enggar Minta Maaf

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo mengunjungi tempat penjualan kaos di Bali, 23 Desember 2017. Biro Pers Istana Kepresidenan

    Presiden Joko Widodo mengunjungi tempat penjualan kaos di Bali, 23 Desember 2017. Biro Pers Istana Kepresidenan

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi dan Ibu Negara Iriana menghadiri resepsi pernikahan putri Menteri Sekretaris Negara Pratikno di Jogja Expo Center, Yogyakarta, Sabtu, 30 Desember 2017. Berdasarkan agenda yang diterima Pemerintah Kota Yogyakarta, setelah menghadiri resepsi sedianya Jokowi langsung mengecek kondisi Pasar Tradisional Pingit di Kelurahan Bumijo, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta.

    Tenda untuk peresmian renovasi pasar sudah disiapkan. Namun Jokowi yang dijadwalkan hadir pukul 13.00 WIB batal datang. Semula Presiden dijadwalkan datang ke pasar itu pukul 11.00 WIB. Sterilisasi area sudah dilakukan aparat sejak pukul 08.00 WIB.

    Baca: Jokowi Berfokus Bangun Sumber Daya Manusia di 2019

    Karena batal datang, kehadiran Jokowi diwakilkan kepada Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. "Kami menyampaikan permohonan maaf dari Presiden karena tidak bisa hadir, ada banyak sekali agenda hari ini yang harus dilakukan," ujar Enggar kepada para pedagang Pasar Pingit.

    Menurut Enggar walaupun Jokowi tidak hadir, peninjauan pasar di tengah kota yang baru selesai direnovasi itu tetap dilakukan. Sebab, ujar Enggar, Presiden Jokowi sering mengecek sendiri ke lapangan apa yang sudah dilakukan bawahannya.

    Simak: Pesan Jokowi di Tahun Baru: Selamat Berlibur Bersama Keluarga

    "Itulah beliau (Presiden), beliau lebih suka menghilangkan hal-hal yang berbau protokoler agar bisa memeriksa sendiri, apakah laporan dari menteri, gubernur, bupati, wali kota, itu sesuai kondisi di lapangan," ujarnya.

    Sejumlah pedagang yang sudah menunggu kedatangan Jokowi mengaku tidak terlalu kecewa meski kepala negara tersebut urung berkunjung. Suparni, 52 tahun, pedagang bumbu dapur, mengatakan bagi dia yang penting bisa berjualan dengan tenang. "Enggak terlalu kecewa, karena saya cuma ingin pasar tradisional itu hidup, pedagang bisa berjualan terus dengan nyaman, dan kondisi pasar layak," ujarnya.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga