Sinar Api Gunung Agung Menipis, Berikut Penjelasannya

Reporter:
Editor:

Widiarsi Agustina

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana atap pura dan pepohonan di kawasan Pura Besakih yang sempat dilanda hujan abu vulkanik Gunung Agung, Karangasem, Bali, 3 Desember 2017. ANTARA/Hafidz Mubarak A

    Suasana atap pura dan pepohonan di kawasan Pura Besakih yang sempat dilanda hujan abu vulkanik Gunung Agung, Karangasem, Bali, 3 Desember 2017. ANTARA/Hafidz Mubarak A

    TEMPO.CO, KARANGASEM - Sinar api (glow) di puncak Gunung Agung beberapa hari belakangan tampak berkurang. Berdasarkan pengamatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sinar api terpantau sangat tipis.

    "Intensitas lebih kecil, kemungkinan area panas ada tapi sedikit. Nah sisanya ini kemungkinan sudah mendingin," kata Kepala Sub-Bidang Mitigasi Pemantauan Gunungapi Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana di Pos Pengamatan, Karangasem, Minggu, 3 Desember 2017.

    Menurut Devy, magma yang naik ke permukaan cepat dingin. "Kalau semakin tebal (beku), bagian atas semakin keras. Kalau semakin keras mobilitas semakin rendah," ujarnya. Ia menjelaskan ada kemungkinan magma membeku karena tidak ada lagi yang mampu dikeluarkan sampai ke atas. Atau, ujar dia, kemungkinan yang lain magma terhalangi (pembekuan).

    Devy menjelaskan terjadi penurunan gas SO2 yang berkorelasi dengan aktivitas magmatik. "Kalau dibandingkan saat fase erupsi (beberapa hari lalu) dengan sekarang, SO2 mengalami penurunan sangat tajam sampai 20 kali lebih rendah daripada pengukuran sebelumnya," ucapnya.

    Hal tersebut, kata Devy, menimbulkan dua kemungkinan. "Apakah menandakan energi magma sudah habis? Atau, penyumbatan?

    Baca: Erupsi Gunung Agung, Wisata Arung Jeram di Karangasem Ditutup 

    Adapun pada Jumat, 1 Desember pada malam hari sinar api mulai menipis, atau sulit teramati. Keterangan PVMBG sinar api yang memancar dari kawah Gunung Agung setelah erupsi terjadi karena lava bertemperatur tinggi di dalam kawah. Intensitas cahaya dari lava terpantul pada kolom asap menyebabkan fenomena sinar api ini teramati.

    Berdasarkan catatan PVMBG setelah rentetan gempa vulkanik periode September-Oktober, pada 21 November 2017 pukul 17.05 Wita fase erupsi Gunung Agung dimulai. Saat itu ditandai semburan abu vulkanik setinggi 700 meter di atas puncak. Erupsi kembali terjadi pada 25 November pukul 17.20 Wita mencapai ketinggian 1500 meter di atas puncak.

    Adapun pada 26-27 November erupsi terjadi dengan ketinggian kolom abu mencapai 3000 meter di atas puncak. Pada 28 November erupsi Gunung Agung terjadi dengan ketinggian kolom abu mencapai 4000 meter. Sedangkan pada 29 November erupsi terjadi abu mencapai ketinggian 2000 meter.

    BRAM SETIAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.