Jokowi Kembali Wanti-wanti Kegaduhan Tahun Politik: Ayo Rukun

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo bersama mantan Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin meninggalkan ruangan seusai menyampaikan keterangan kepada wartawan, di Istana Merdeka, Jakarta, 23 Oktober 2017. ANTARA FOTO

    Presiden Joko Widodo bersama mantan Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin meninggalkan ruangan seusai menyampaikan keterangan kepada wartawan, di Istana Merdeka, Jakarta, 23 Oktober 2017. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo kembali mewanti-wanti masyarakat Indonesia untuk tidak berseteru satu sama lain di tahun politik. Hal tersebut mengingat pemilihan kepala daerah serentak 2018 dan pemilihan umum 2019 semakin dekat.

    "Saya berharap, jangan sampai karena perhelatan politik, karena pilihan bupati, gubernur, presiden, menjadikan kita tak rukun," ujar Presiden Joko Widodo saat menerima kepala berbagai suku Indonesia di Istana Bogor pada Kamis, 16 November 2017.

    Presiden Joko Widodo mengaku sudah gerah dengan kegaduhan-kegaduhan politik semacam itu. Ia mengatakan lebih baik warga atau pendukung kubu mana pun langsung rukun begitu pemilihan umum selesai.

    Baca: Jokowi Minta Jangan Ada Kegaduhan antara KPK dan Polri

    Lagipula, kata Jokowi, peristiwa pemilu hanyalah peristiwa lima tahun sekali. Jadi, menurut dia, akan menjadi hal yang menyedihkan jika perseteruan dan persaingan setelah pemilu dibawa hingga berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sesudahnya.

    "Sudahlah, pilih pemimpin terbaik. setelah itu sudah, rukun kembali.
    Kadang kita memamg terbawa oleh perasaan-perasaan..wuaduh...udahlah. Terus kita jaga kerukunan," ujar Jokowi.

    Baca: SMRC Nilai Jokowi Terbitkan Inpres Anti-Gaduh agar Tak Terganggu

    Di Jakarta, rasa kecewa atas kalahnya mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Pilkada DKI Jakarta 2017 masih terasa. Beberapa pihak masih tidak terima dengan kemenangan pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno yang seolah menganggap mereka menang dengan cara yang tak elok.

    Salah satu perwujudan itu terlihat dalam acara penghargaan Kolose Kanisius. Komposer Ananda Sukarlan, dalam perhelatan itu, melakukan aksi walk out bersama sejumlah alumnus Kanisius karena merasa kecewa Anies diundang sebagai pembicara. Menurut dia, Anies mempraktikan hal hal bertentangan dengan nilai nilai Kanisius selama dan sesudah Pilkada Jakarta.

    Akademisi Franz Magnis Suseno, yang turut hadir di acara itu, merasa tak sepakat dengan tindakan Ananda. Menurut dia, tindakan Ananda menandakan permusuhan terhadap Anies di mana seharusnya ia menghargai kehadiran Anies dan memberinya kesempatan untuk membuktikan diri.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.