Saut Situmorang Ragukan Efektivitas TGPF Novel Baswedan

Reporter:
Editor:

Iqbal Muhtarom

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua KPK Agus Rahardjo (kiri) bersama Wakil Ketua KPK Saut Situmorang melakukan jumpa pers terkait penetapan tersangka baru dalam kasus E-KTP di Gedung KPK, Jakarta, 17 Juli 2017. KPK menetapkan Ketua DPR RI Setya Novanto sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan paket penerapan E-KTP yang merugikan negara Rp2,3 triliun. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Ketua KPK Agus Rahardjo (kiri) bersama Wakil Ketua KPK Saut Situmorang melakukan jumpa pers terkait penetapan tersangka baru dalam kasus E-KTP di Gedung KPK, Jakarta, 17 Juli 2017. KPK menetapkan Ketua DPR RI Setya Novanto sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan paket penerapan E-KTP yang merugikan negara Rp2,3 triliun. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Saut Situmorang meragukan efektivitas tim gabungan pencari fakta (TGPF) kasus Novel Baswedan bila tim tersebut nantinya terbentuk. Saut berkaca pada pembentukan TGPF sejumlah kasus yang ia nilai tidak mampu menemukan fakta baru yang bisa ditindaklanjuti.

    Menurut Saut, sebaiknya pengusutan kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan itu diserahkan kepada kepolisian tanpa harus membentuk TGPF. "Kalau mau membuat tim seperti itu, saya berpandangan apakah itu efisien dan efektif?" kata Saut di gedung KPK, Jumat, 3 November 2017.

    Baca juga: Soal Novel Baswedan, Jokowi Jangan Hanya Mendengar dari Kapolri

    Saut mengatakan belum ditemukannya pelaku penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan bukan berarti tidak ada upaya dari kepolisian dalam menuntaskan kasus ini. Saut menilai upaya Kepolisian RI dalam menemukan pelaku penyiraman terbilang sulit.

    Saut mencontohkan, dari berbagai temuan rekaman maupun keterangan saksi yang digali, Polri masih belum menemukan titik terang siapa pelaku penyerangan tersebut.

    Kendati tidak sepenuhnya setuju dengan pembentukan TGPF, Saut mengatakan KPK tetap mengawal penuntasan kasus Novel Baswedan. "Kita mengawal terus kasus itu. Supaya dia tetap terus berjalan," ucapnya.

    Penanganan kasus penyerangan Novel Baswedan sudah menginjak hari ke-206 tapi hingga kini, kepolisian belum menemui titik terang. Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Ari Dono mengatakan kepolisian kesulitan mengungkap pelaku penyerangan terhadap Novel Baswedan.

    Baca juga: Dahnil Anzar: TGPF Novel Baswedan untuk Membantu Kepolisian

    Ari Dono mengatakan kasus ini serupa dengan kasus dengan pola tabrak lari yang sulit untuk diungkap. Ari Dono bercerita, kasus tabrak lari ada yang empat tahun baru ketangkap pelakunya. “Puluhan saksi diminta keterangan tapi belum menunjukkan peristiwa itu terbuka," kata Ari Dono.

    Penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan terjadi pada 11 April 2017. Ia diserang menggunakan air keras oleh dua orang tak dikenal setelah melaksanakan salat subuh di Masjid Al-Ikhsan, dekat rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.