Soal Novel Baswedan, Jokowi Jangan Hanya Mendengar dari Kapolri

Reporter:
Editor:

Iqbal Muhtarom

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah mantan pimpinan KPK dan tokoh masyarakat sipil antikorupsi menemui pimpinan KPK guna mendorong pembentukan tim gabungan pencari fakta kasus penyiraman terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan. Pertemuan diadakan di Gedung KPK, Jakarta, 31 Oktober 2017. Tempo/Fajar Pebrianto

    Sejumlah mantan pimpinan KPK dan tokoh masyarakat sipil antikorupsi menemui pimpinan KPK guna mendorong pembentukan tim gabungan pencari fakta kasus penyiraman terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan. Pertemuan diadakan di Gedung KPK, Jakarta, 31 Oktober 2017. Tempo/Fajar Pebrianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Pengurus Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak meminta Presiden Joko Widodo tidak hanya mendengar masukan dari Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian dalam penanganan kasus penyerangan Novel Baswedan. Tapi Dahnil meminta Jokowi mendengarkan pendapat dari kelompok sipil lain.

    Menurut Dahnil, ada baiknya Presiden tidak hanya mendengar perkembangan kasus Novel Baswedan dari Kapolri Tito. "Jangan hanya satu sumber yang didengar Presiden. Tapi dari kelompok sipil yang sesungguhnya, itu bisa menjadi pembanding," ujarnya di Restoran Gado-gado Boplo, Jakarta Pusat, Sabtu, 4 November 2017. 

    Baca juga: Dahnil Anzar: TGPF Novel Baswedan untuk Membantu Kepolisian

    Dahnil mengatakan telah menghubungi Presiden Jokowi untuk rencana pembentukan tim gabungan pencari fakta (TGPF) agar kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan bisa dituntaskan. Menurut Dahnil, tim ini penting untuk mengumpulkan fakta-fakta yang dikumpulkan koalisi masyarakat sipil.

    "TGPF ini jangan diartikan sebagai upaya menyingkirkan kinerja polisi, justru ini akan membantu polisi menyelesaikan masalah nonteknis," kata Dahnil.

    Ia menegaskan pembentukan tim gabungan ini bukan untuk menyingkirkan peran kepolisian dalam penanganan kasus. Malah, kata dia, tim ini bakal membantu kepolisian. "Justru TGPF ini menjadi asistensi bagi polisi menangani masalah nonteknis," tuturnya.

    Baca juga: Jokowi Akan Kembali Panggil Kapolri Bahas Kasus Novel Baswedan

    Penanganan kasus penyerangan Novel Baswedan yang sudah mencapai hari ke-206 belum menemui titik terang. Belum ada perkembangan soal siapa yang menyerang Novel dengan air keras saat dia pulang dari masjid di dekat rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada 11 April 2017.

    Kepolisian menyatakan pihaknya kesulitan mencari pelaku penyerangan Novel karena faktor teknis. Kepolisian berdalih antara lain alat bukti masih kurang untuk menemukan di mana dan siapa penyerang Novel.

    Dahnil berpendapat kepolisian belum maksimal menangani kasus Novel Baswedan. Sebab, kata dia, kepolisian belum melihat CCTV dari pemerintah DKI Jakarta untuk melihat siapa saja yang keluar-masuk di daerah rumah Novel. "Sebenarnya ini tidak terlalu sulit," tuturnya. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salip Menyalip Tim Sepak Bola Putra Indonesia Versus Vietnam

    Timnas U-23 Indonesia versus Vietnam berlangsung di laga final SEA Games 2019. Terakhir sepak bola putra meraih emas di SEA Games 1991 di Filipina.