Penyesalan Para WNI Mantan Pengikut ISIS

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tentara Irak melintas tembok bergambarkan bendera ISIS setelah pertempuran di Shirqat, Irak, 22 September 2016. REUTERS/Stringer

    Tentara Irak melintas tembok bergambarkan bendera ISIS setelah pertempuran di Shirqat, Irak, 22 September 2016. REUTERS/Stringer

    TEMPO.CO, Jakarta - Raut penyesalan tampak dari wajah Difansa saat menceritakan kembali apa yang dialaminya selama bergabung dengan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Dia mengaku telah terbuai dengan bujuk rayu ISIS saat memutuskan bergabung beberapa tahun lalu.

    "Luar biasa penyesalannya, tapi kita enggak bisa mengembalikan waktu," kata dia seperti seperti dikutip dari video Pusat Media Damai dalam situs BNPT berjudul "Kisah Deportan Para ISIS Termakan Bujuk Rayu ISIS". Dafinsa adalah salah satu dari 18 orang WNI yang dipulangkan oleh pemerintah dari Suriah pada 12 Agustus 2017 lalu.

    Baca : Kesaksian Mantan Pengikut ISIS : Mereka itu Pembohong

    Dari apa yang dilihatnya di Suriah, Dafinsa mengatakan anggota ISIS hanya mengejar tiga hal. "Kekuasaan, harta dan wanita," ujarnya. Mereka mengejar perempuan-perempuan single untuk dijadikan istri dan menyebutya sebagai jihad nikah. "Orang di sana menikah seperti lomba. Habis menikah satu, menikah lagi. Cerai menikah, entah berapa kali."

    Lasmiati, deportan ISIS lainnya juga mengaku menyesali keputusannya untuk berangkat ke Suriah. "Ya, saya menyesal," kata dia. Apalagi dia berangkat sampai meninggalkan suami dan anaknya.

    Baca : ISIS Terusir, 2.100 Jasad Manusia Ditemukan di Mosul

    Menurut dia, janji-janji yang diberikan ISIS tak ada yang terpenuhi. "Semua bohong, bahkan hak-hak kami saja tak diberikan," kata dia. Janji yang kerap ditawarkan ISIS antara lain adalah akan menyekolahkan anggotanya dan membayarkan hutang.

    Penyesalan juga diungkapkan oleh Heru. Bapak paruh baya ini meninggalkan istri dan anaknya untuk bergabung dengan ISIS. "Saya sangat menyesali keputusan saya itu," kata dia.

    Dia pun ingin segera bisa berkumpul lagi dengan keluarganya dan menjalani kehidupan seperti biasa. "Saya ingin peluk istri saya, peluk anak perempuan saya. Dan insya Allah menyampaikan permintaan maaf," kata dia.

    Setiba di tanah air pada Agustus lalu, para deportan ISIS ini langsung menjalani pembinaan mental di Pusat Deradikalisasi BNPT di Sentul, Bogor. Upaya ini dilakukan BNPT untuk menyiapkan mental mereka kembali ke masyarakat. Kemarin, 15 dari 18 orang deportan ISIS itu telah pulang kembali ke masyarakatnya.

    NINIS CHAIRUNNISA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.