Pesan Buya Syafii ke Guru Sejarah: Baca Novel dan Filsafat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif menjadi narasumber saat acara Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965 di Jakarta, 18 April 2016. TEMPO/Subekti

    Mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif menjadi narasumber saat acara Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965 di Jakarta, 18 April 2016. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Cendekiawan Indonesia Syafii Maarif mengatakan guru sejarah harus mengajarkan gagasan dari bapak bangsa agar generasi muda dapat memahami Pancasila sebagai sumber pemikiran kebangsaan.

    “Para pendiri bangsa umumnya paham sejarah, seperti Soekarno, Tan Malaka, Hatta, Agus Salim, dan lainnya. Mereka punya cita-cita mulia untuk bangsa ini. Untuk itu guru sejarah mari baca kembali tulisan mereka,” katanya saat memberikan Ceramah Umum Kesejarahan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Senin, 28 Agustus 2017.

    BACA: Buya Syafii Maarif dalam Berbagai Viral

    Dia ingin guru sejarah dapat mendidik anak-anak menjadi patriot yang autentik. Karena itu saat mengajar guru sejarah tidak hanya bergantung kurikulum saja, mereka harus berkreasi dalam memberikan materi kepada peserta didik.

    Dia juga meminta guru sejarah memperbanyak bacaannya, tidak sebatas buku sejarah tetapi juga novel, filsafat, dan agama. Sehingga guru dapat memberikan berbagai macam sudut pandang dalam mengantarkan pelajaran sejarah.

    BACA: Di Depan Uskup, Buya Syafii Beberkan Bahaya Arabisme

    “Guru sejarah itu referensi bacaannya harus luas, tidak boleh hanya baca sejarah, supaya anak didik itu dapat melihat situasi dalam berbagai dimensi,” ucapnya.

    Buya Syafii Maarif  mengatakan sejarah adalah penghubung antara masa lampau dan masa sekarang, sekaligus menunjukkan arah masa depan bangsa.

    Menurut dia, saat ini masyarakat Indonesia telah kehilangan arah dan tidak memahami tujuan kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh orang-orang terdahulu.

    Nasionalisme Indonesia adalah gagasan melawan dari penindasan, orang Indonesia ingin mengubah status dari terjajah menjadi merdeka.

    “Tujuan kemerdekaan itu kesejahteraan umum, namun kita lihat sekarang keadilan sosial belum terwujud, ketimpangan sosial masih tajam,” ujar Syafii Maarif.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.