Dirjen Hubla Tertangkap OTT, Ini Catatan Hartanya Sejak 2006  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tonny Budiono, Dirjen Hubungan Laut Kemenhub. dephub.go.id

    Tonny Budiono, Dirjen Hubungan Laut Kemenhub. dephub.go.id

    TEMPO.CO, Jakarta- Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Antonius Tonny Budiono, yang ditetapkan sebagai tersangka terkait dengan perizinan dan pengadaan proyek tahun 2016-2017, tercatat bertambah hartanya sebesar Rp 250 juta dalam enam bulan. Tonny terjaring dalam  OTT (operasi tangkap tangan) KPK, Rabu malam, 23 Agustus 2017.

    Baca juga: Tonny, Pegawai Teladan yang Terjaring OTT KPK

    Di situs resmi KPK mengenai laporan harta kekayaan penyelenggara negara, Tonny termasuk orang yang rajin melaporkan harta kekayaannya. Ia pertama kali melaporkan kekayaannya ke KPK pada 24 Juli 2006 saat menjabat sebagai Kepala Balai Teknologi Keselamatan Pelayaran pada Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. Kala itu hartanya mencapai Rp 1,7 miliar.

    Tonny juga melaporkan hartanya pada 3 Februari 2010, 28 Agustus 2012, dan 28 Juli 2015. Masing-masing laporan itu Tonny menjabat sebagai Kepala Distrik Navigasi Kelas I Surabaya, Direktur Kenavigasian, dan Direktur Pelabuhan dan Pengerukan.

    Selain itu, Tonny melaporkan kekayaannya pada 29 Februari 2016 saat menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Bidang Logistik, Multimoda, dan Keselamatan Perhubungan. Pada laporan itu, harta Tonny yang tercantum adalah Rp 2,538 miliar.

    Selang enam bulan, yakni pada 1 Agustus 2016, Tonny kembali melaporkan harta kekayaannya kepada KPK. Dalam waktu enam bulan itu, harta Tonny bertambah sekitar Rp 254 juta sehingga totalnya menjadi Rp 2,792 miliar.

    Harta Tonny yang tercantum dalam laporan itu adalah tanah dan bangunan seluas 171 meter persegi dan 70 meter persegi di Kota Tangerang Selatan senilai Rp 559,2 juta. Harta itu berasal dari perolehan sendiri.

    Tonny juga tercatat memiliki dua mobil yakni Toyota Yaris 2014 seharga Rp 220 juta dan sebuah Toyota yang dibeli pada 2013 seharga Rp 90 juta. Ia juga memiliki logam mulia senilai Rp 166,7 juta dan benda bergerak lainnya seharga Rp 33 juta. Ditambah ia juga mencatatkan Giro Rp 1,723 miliar.

    Namun saat operasi tangkap tangan, penyidik menemukan 33 tas berisi uang Rp 18,9 miliar di tempat tinggal Tonny. Selain itu, penyidik juga menemukan empat ATM berisi uang. Salah satunya berisi uang Rp 1,174 miliar. Sehingga jumlahyang ditemukan adalah sebesar Rp 20,74 miliar.

    Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan menduga seluruh uang itu tak hanya bersumber dari satu pihak. Ia juga menduga pemberian itu terkait dengan beberapa proyek. "Kami akan menelusuri itu," kata dia di kantornya, Kamis, 24 Agustus 2017.

    Tonny Budiono belum bisa dimintai konfirmasi soal temuan KPK dalam OTT itu. Ia masih diperiksa penyidik KPK.  Ia diduga menerima suap dari Adiputra Kurniawan selaku Komisaris PT Adhiguna Keruktama dalam pengerjaan pengerukan Pelabuhan di Tanjung Mas Semarang.

    MAYA AYU PUSPITASARI


  • KPK
  •  

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.