Kadin dan ALI Apresiasi Reformasi Bea Cukai

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kadin dan ALI Apresiasi Reformasi Bea Cukai

    Kadin dan ALI Apresiasi Reformasi Bea Cukai

    INFO NASIONAL - Untuk menciptakan iklim usaha yang sehat, Bea Cukai melaksanakan program Penguatan Reformasi Kepabeanan dan Cukai (RPKC) sebagai  upaya perbaikan berkelanjutan atas kinerja internal dan para pengguna jasa Bea Cukai. Program penguatan reformasi yang telah digulirkan sejak Desember 2016 ini selalu dioptimalkan sesuai arahan Presiden dan Menteri Keuangan. Salah satu poin yang ditekankan dalam program ini adalah penanganan impor berisiko tinggi.

    Untuk menyampaikan perkembangan program itu kepada para pengguna jasa, Bea Cukai menggelar acara Customs Talk  bertajuk “Sharing Session Program Penguatan Reformasi Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC)” pada 7-12 Juli 2017. Pada hari ketiga pelaksanaan acara, Bea Cukai mengundang Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) dan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin).

    Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga Bea Cukai Robert Leonard Marbun menjelaskan, mengenai penanganan impor berisiko tinggi. Menurut Robert, ini untuk meningkatkan penerimaan negara dengan kegiatan yang lebih fair dan taat hukum. “Negara kita perlu bertumbuh agar semua sejahtera. Untuk mencapai kesejahteraan dibutuhkan penerimaan negara yang digunakan untuk membangun infrastruktur, arus perdagangan yang lancar, dan ekspor yang meningkat, yakni industri dalam negeri harus maju. Bagaimana cara menumbuhkan persaingan yang sehat untuk memajukan industri, kita harus menekan impor berisiko tinggi,” ujarnya

    Robert mengatakan terdapat dua pendekatan untuk menangani impor berisiko tinggi. Pertama, pendekatan yang bersifat taktis operasional, di antaranya pengawasan lapangan, sinergi dengan aparat penegak hukum dan kementerian lembaga, serta sinergi dengan asosiasi. Kedua, pendekatan yang bersifat sistemik dengan pengembangan sistem kepatuhan pengguna jasa. “Untuk mewujudkan lingkungan ekonomi yang sehat, dibutuhkan kemitraan yang konstruktif antara Bea Cukai dan pengguna jasa,” katanya.

    Menanggapi pencanangan penertiban impor berisiko tinggi, Ketua Umum ALI Zaldi Masita menjelaskan, masalah impor berisiko tinggi sudah menjadi kebiasaan sebagian besar pelaku industri logistik. Karena itu, sudah saatnya Bea Cukai memberi ketegasan untuk memperbaikinya. Menurut Zaldi, masalah impor berisiko tinggi sudah menjadi gaya hidup. Pelaku industri selalu membandingkan dua opsi, yaitu normal sesuai aturan dan ilegal yang sering menjadi solusi karena tidak dipersulit dengan aturan-aturan pemerintah.

    Mengubah gaya hidup ini merupakan usaha yang tidak mudah. “Kami berharap Bea Cukai dapat teguh dalam menjalankan penertiban ini sama seperti saat penindakan impor barang bekas. Jangan hanya bertahan dua sampai tiga bulan. Selain itu, Bea Cukai harus memperhatikan sifat strict and care, sehingga pemain ilegal bisa dirangkul untuk menjadi patuh,” ujarnya.

    Senada dengan Zaldi, perwakilan Kadin, Mahendra Rianto, menyatakan pihaknya turut mendukung rencana penanganan impor berisiko tinggi. “Kami sangat mendukung kebijakan Bea Cukai, karena ini akan menjadi sebuah langkah kita bersama untuk bermain di level yang sama juga menciptakan persaingan yang sehat. Kami berharap Bea Cukai menerapkan program ini secara berkelanjutan, sehingga tidak ada pihak yang menyatakan ini hanya program yang bersifat sementara. Jika kita punya niat baik, ingin melakukan sesuatu yang lebih baik untuk Indonesia, tak perlu khawatir dengan hasilnya,” kata Mahendra. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?