Sepertiga dari 920 Bayi yang Lahir di Kota Bogor Bertubuh Pendek  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bayi dalam inkubator. shutterstock.com

    Ilustrasi bayi dalam inkubator. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Bogor - Berdasarkan hasil studi kohort yang dilakukan Pusat Penelitian Pengembangan Gizi, Kementerian Kesehatan, menyimpulkan dari 920 bayi yang lahir di Kota Bogor, Jawa Barat, sepertiga mengalami kondisi stunting atau bertubuh pendek. Selain stunting, berat badan bayi kurang dari 3 kilo gram. "Bayi-bayi stunting ini lahir dari kelompok ibu-ibu berisiko," kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Kota Bogor, Erna Nuraini, Rabu, 7 Juni 2017.

    Erna menjelaskan, studi Kohort yang dilakukan Pusat Penelitian Gizi dimulai pada 2011 dan terus berlangsung hingga tahun ini. Studi fokus pada dua bagian yakni penyakit tidak menular (PTM) dan tumbuh kembang anak (TKA). Studi kohort adalah sebuah studi dengan dua atau lebih kelompok orang yang memiliki karakteristik serupa. Satu kelompok menerima pengobatan, terkena faktor risiko atau memiliki gejala tertentu dan kelompok lainnya tidak.

    Pada bidang TKA, dalam studi itu, diambil responden sebanyak 918 ibu hamil di 5 kelurahan yang ada di wilayah Kecamatan Bogor Tengah, yakni Kelurahan Kebon Kelapa, Ciwaringin, Babakan Pasar, dan Panaragan. "Studi ini mengikuti pertumbuhan ibu hamil mulai dari awal kehamilan, sampai bayinya lahir hingga kini berusia empat tahun," kata Erna.

    Dari 918 ibu hamil yang diteliti mulai dari tumbuh kembang janinnya, pemeriksaan kesehatannya, makannya, serta aktivitasnya, lahir 920 bayi. Beberapa ibu hamil melahirkan bayi kembar.

    Hasil penelitian mengungkapkan, sepertiga ibu hamil yang menjadi koresponden dalam kondisi berisiko. Resiko yang dimaksud pada ibu hamil berusia di bawah 20 tahun, dan lebih dari 35 tahun. Berat badan sewaktu hamil kurang dari 45 kilogram, selama hamil berat badan kurang dari 11 kilogram, dan hipertensi.  "2/5 ibu hamil berisiko ini atau 40 persennya memiliki tinggi badan kurang yakni 150 sentimeter dan 20 persennya anemia. Bahkan, waktu masuk kehamilan sudah anemia".

    Risiko yang dialami oleh ibu hamil inilah yang menghasilkan bayi-bayi stunting atau bertumbuh pendek (kurang dari 50 sentimeter) dan berat badan kurang dari 3 kilogram saat lahir. Bayi yang lahir stunting berisiko prematur dan organ tubuhnya tidak sempurna.
    "Bayi yang lahirnya pendek, diduga dapat berisiko terkena PTM, dikhawatirkan karena lahir prematur, organ-organ tubuhnya tumbuh tidak optimal," katanya.

    Erna menyebutkan, dari hasil analisis yang dilakukan, bayi-bayi yang lahir  pendek tersebut kebanyakan lahir dari ibu-ibu yang pendek pula. Seorang ibu pendek berisiko 2 kali lebih besar melahirkan bayi stunting daripada ibu bertubuh normal.

    Menurut Erna, bayi-bayi stunting selain karena faktor ibu yang berisiko, juga dipengaruhi faktor dari luar yakni lingkungan tempat tinggal. Rumah yang kotor, dan ventilasi udara yang tidak bagus. "Jika ibu berisiko menjaga lingkungan tempat tinggal dan mengatur pola gizi seimbang, bayi stunting dapat dicegah, walau ibunya berisiko." kata Erna.

    Erna mengatakan, untuk menghasilkan generasi yang berkualitas, masyarakat perlu mendapat penyuluhan kesehatan diri dan lingkungan. Karena generasi berkualitas berawal dari kondisi ibu yang bagus. "Harus disiapkan sebelum seorang ibu menjadi calon ibu, yakni mulai saat remaja. Rekomendasi yang diberikan yakni menciptakan remaja yang sehat," kata Erna.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Akar Bajakah Tunggal, Ramuan Suku Dayak Diklaim Bisa Obati Kanker

    Tiga siswa SMAN 2 Palangka Raya melakukan penelitian yang menemukan khasiat akar bajakah tunggal. Dalam penelitian, senyawa bajakah bisa obati kanker.