Gaya Ketua Umum PDIP Megawati Berkomunikasi dengan Warga NU

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri menari saat menyanyikan mars partai dalam acara penutupan Rapat Kerja Nasional I PDI Perjuangan di Jakarta, 12 Januari 2016. Rakernas I PDIP telah selesai diselenggarakan. Acara itu ditutup dengan pidato penutupan dari Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. TEMPO/Imam Sukamto

    Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri menari saat menyanyikan mars partai dalam acara penutupan Rapat Kerja Nasional I PDI Perjuangan di Jakarta, 12 Januari 2016. Rakernas I PDIP telah selesai diselenggarakan. Acara itu ditutup dengan pidato penutupan dari Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Blitar - Di tengah penyampaian orasinya, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri mengisahkan cerita lucu tentang Gus Dur. Selain dihadiri ribuan kader PDIP, orasi di makam Bung Karno semalam juga diikuti warga Nahdliyin bersama Ansor dan Banser.

    Megawati Soekarnoputri berikut kader dan simpatisan PDIP tak hanya menggelar tahlil yang dipimpin Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Kyai Said Agil Siradj, peringatan hari kelahiran Pancasila tahun ini juga dihadiri warga Nahdliyin beserta badan otonomnya seperti Ansor dan Banser. Mereka membaur menjadi satu di kompleks makam Bung Karno untuk mendengarkan tausyiah Said Agil dan orasi Megawati Soekarnoputri.

    Baca juga:

    Megawati Kecam Kelompok Radikal yang Ingin Menguasai Negara

    Di depan ribuan kader PDIP dan NU yang tersiar di beberapa layar lebar di sudut-sudut makam Bung Karno, Megawati mengisahkan cerita lucu tentang Gus Dur. “Gus Dur pernah berkata kepada saya. Wis to, mbak, NU karo PDIP kuwi podo (Sudahlah mbak, NU dan PDIP itu sama), sama-sama salahnya,” kata Megawati, Senin 5 Juni 2017.

    Alkisah saat Megawati berbicara di depan kader PDIP dengan berapi-api di lapangan terbuka, Gus Dur bertanya kepada salah seorang kader tentang situasinya. Dengan semangat, kader PDIP itu menjawab, “Siteris Gus”. Setelah dipikir, ternyata yang dimaksud adalah histeris.

    Baca pula:

    Ribuan Kader PDIP Mengikuti Orasi Kebangsaan Megawati Malam Ini

    Hal yang sama juga dilakukan warga Nahdliyin saat berkesempatan mengundang Gus Dur dalam sebuah peresmian gedung. Salah seorang panitia mengadu jika gedung itu belum dilengkapi eternit. Seketika Gus Dur mendongak ke atas dan mendapati seluruh atap ruangan sudah tertutup eternit. Panitia itu pun menyambung penjelasannya dengan perangkat elektronik yang menyerupai televisi. Setelah diusut, ternyata yang dimaksud adalah internet.

    Gurauan tersebut tak pelak mengundang gelak tawa masyarakat. Apalagi sosok Gus Dur selalu menarik menjadi bahan perbincangan, khususnya warga NU.

    Silakan baca:

    Megawati Ingatkan Pentingnya Makna Hari Lahir Pancasila

    Megawati melanjutkan, meski sama-sama memiliki kesalahan, namun PDIP dan NU juga memiliki kesamaan lain yang perlu dipertahankan, yakni kesamaan untuk berjuang. Keduanya memiliki cara tradisional atau kultural dalam menghidupi dan membesarkan partai. Kedatangan ribuan kader PDIP dan NU ke Blitar dari berbagai kota yang tanpa bantuan biaya dari partai adalah cermin kehidupan itu. “Mereka berangkat sendiri, cari tempat sendiri. Inilah kehidupan tradisional PDI Perjuangan,” kata Megawati.

    Orasi Megawati Soekarnoputri itu pun ditutup dengan penyerahan lukisan Bung Karno dari Megawati kepada Said Agil Siradj sebagai simbol bersatunya nasionalis dan religius. Megawati juga mengayun-ayunkan bendera merah putih sambil mengajak masyarakat menyanyikan lagu Berkibarlah Bendera Negeriku ciptaan Gombloh.

    HARI TRI WASONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.