Dibubarkan Pemuda Pancasila, Tribute to Wiji Thukul Dilanjutkan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anak penyair kritis Wiji Thukul, Fajar Merah memainkan gitar dan membacakan puisi dalam Ngamen Puisi Istirahatlah Kata Kata di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 24 Januari 2017. Pembacaan puisi bersama anak kandung Wiji Thukul tersebut merupakan rangkaian acara nonton bareng film Istirahatlah Kata Kata. TEMPO/Nurdiansah

    Anak penyair kritis Wiji Thukul, Fajar Merah memainkan gitar dan membacakan puisi dalam Ngamen Puisi Istirahatlah Kata Kata di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 24 Januari 2017. Pembacaan puisi bersama anak kandung Wiji Thukul tersebut merupakan rangkaian acara nonton bareng film Istirahatlah Kata Kata. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Yogyakarta – Pameran seni karya perupa Andreas Iswinarto bertajuk Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa serta diskusi tentang Refleksi Kebebasan Pers dan Kebebasan Berekspresi yang dibubarkan Pemuda Pancasila pada Senin, 8 Mei 2017, tetap dilanjutkan.

    Puluhan karya seni rupa drawing dan digital masih terpajang di dinding-dinding garasi dan ruang diskusi Pusat Studi Hukum dan Hak Asasi Manusia (Pusham) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. “Kalau diskusi dan pameran diserang, dibubarkan, ya kami bikin diskusi dan pameran lagi,” kata Direktur Pusham UII Eko Riyadi, Selasa, 9 Mei 2017.

    Baca: Massa Pemuda Pancasila Bubarkan Pameran Bertema Wiji Thukul

    Menurut Eko, pembubaran pameran dan diskusi rangkaian acara Tribute to Wiji Thukul  8-11 Mei 2017 tersebut merupakan kejahatan dan pelanggaran atas jaminan hak asasi manusia. Baik dalam Pasal 19 Deklarasi Universal HAM, Pasal 19 ayat 1 dan 2 Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik yang dirativikasi UU Nomer 12 Tahun 2005, Pasal 28 F UUD 1945, maupun Pasal 14 UU Nomer 39 Tahun 1999 tentang HAM. “Setiap orang berhak mempunyai pendapat tanpa gangguan,” kata Eko.

    Dalam pembubaran tersebut, sejumlah karya seni drawing dan digital milik Andreas ada yang sobek dan hilang. Selain pembubaran, perampasan, dan perusakan, juga ada tindakan penganiayaan oleh anggota Pemuda Pancasila terhadap panitia. Andreas  mengaku nyaris dicekik. Kasus itu pun telah dilaporkan Eko ke Kepolisian Daerah DIY pada 8 Mei 2017 dengaan Surat Tanda Terima Laporan Polisi Nomer RTTLP/241.V/2017/DIY/SPKT.

    Simak: Pembubaran Diskusi Karl Marx, Ormas Diminta Tak Main Hakim

    Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta Hamzal Wahyudin curiga ada relasi yang dibangun antara Pemuda Pancasila dengan polisi dan sejumlah pejabat DIY. Sebab saat pembubaran, sejumlah polisi yang hadir tidak berupaya mencegah. “Tindakan itu sudah masuk pidana. Kalau laporan kami ke polisi tidak segera ditindaklanjuti atau digantung, tesis soal relasi itu benar,” kata Hamzal.

    Andreas  mengaku saat menggelar pameran di Semarang pada 1-6 Mei 2017 lalu, dia juga mendapat tekanan dan intimidasi dari ormas tertentu. Ormas itu menekan lurah setempat untuk menyegel acara pameran di Gedung Serikat Indonesia (SI) Semarang pada 1 Mei 2017 lalu.  Akibatnya, pamerannya pun dipindahkan ke tempat lain.

    Menurut Andreas, tindakan represif dan intimidatif tersebut tidak lepas dari kekhawatiran kelompok-kelompok tertentu terhadap semangat yang dibangkitkan dari puisi-puisi Wiji Thukul, seperti petani, nelayan, dan kaum miskin kota “Kami catat, Wiji Thukul jadi sasaran tembak ormas,” kata Andreas.

    Menurut Ketua Pemuda Pancasila Yogyakarta, Faried Jayen Soepardjan, kegiatan kelompok ini diduga ingin menghidupkan faham komunisme. "Saya nyatakan bahwa kami intoleransi untuk paham-paham komunisme dan separatisme," kata Faried kepada wartawan.

    Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda DIY Ajun Komisaris Besar  Yuliyanto mengatakan akan melakukan pengecekan kepada petugas di lapangan atas hasil olah TKP yang telah dilakukan.  “Saya belum menerima laporan. Tapi langkah selanjutnya adalah pemeriksaan saksi-saksi,” kata Yuliyanto.

    Sedangkan dugaan pembiaran yang dilakukan polisi saat pembubaran paksa dilakukan, Yuliyanto pun akan melakukan pengecekan.  “Itu baru versi Pusham. Karena tugas polisi adalah mengamankan pihak-pihak agar tidak terjadi gesekan fisik atau pun pelanggaran undang-undang,” kata Yuliyanto.

    PITO AGUSTIN RUDIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.