Ribuan Santri Ramaikan Musabaqah Kitab Kuning

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kang Dedi mengatakan pengajaran kitab kuning menjadi antitesis dalam melawan paham radikalisme dan terorisme.

    Kang Dedi mengatakan pengajaran kitab kuning menjadi antitesis dalam melawan paham radikalisme dan terorisme.

    INFO PURWAKARTA - Ribuan santri dari berbagai pondok pesantren salafiyah di Purwakarta, Jawa Barat, melakukan pawai taaruf sebagai pertanda dimulainya Musabaqah Qiro'atul Kutub atau Kitab Kuning 2017 se-Kabupaten Purwakarta.

    Pawai taaruf yang menampilkan ciri khas masing-masing pesantren dengan lantunan salawat yang diiringi tetabuhan musik perkusi rebana dan marawis ini dimulai dari gedung Kembar Nakula-Sadewa di Jalan Singawinata dan berakhir di lokasi perlombaan di Taman Maya Datar Kompleks Perkantoran Bupati Purwakarta.

    "Alhamdulillah, Kang Dedi (sapaan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi) telah memberikan perhatian penuh pelaksanaan Musabaqah Kitab Kuning ini," kata Ketua Umum Pusat Garda Bangsa Cucun Akhmad Syamsurizal, yang juga penggagas acara Musabaqah Kitab Kuning tingkat pusat, saat memberikan sambutan, Ahad, 16 April 2017.

    Ia mengungkapkan, Musabaqah Kitab Kuning secara berjenjang diselenggarakan mulai tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional. Adapun pembacaan kitab kuning yang dilombakan, yakni kitab Ihya Ulumuddin karangan ulama besar Al-Gazali dan kitab Al-Fiyah karya Ibnu Malik.

    "Para pemenang tingkat nasional akan kami berangkatkan umroh dan ziarah ke makam Al-Gazali di Khusaran, Iran, dan ada hadiah uang Rp 500 juta," ujarnya.

    Menurut Sekretaris Fraksi PKB di DPR itu, Musabaqah Kitab Kuning juga sebagai jawaban bagi mereka yang selama ini sering menilai, bahkan menuduh pesantren menjadi sarang teroris akibat miskomunikasi dalam konteks pemahaman keagamaan.

    "Kami ingin tunjukkan kepada mereka tentang kitab-kitab kuning yang diajarkan kepada santri di pesantren. Pengajaran yang penuh muatan tentang toleransi, kedamaian, dan mencintai Tanah Air," ujar santri jebolan pesantren Manonjaya, Tasikmalaya itu.

    Adapun Bupati Dedi menjelaskan mengenai pemahaman kitab-kitab kuning yang diajarkan, terutama di pesantren-pesantren salafiyah. "Kitab kuning itu menjadi sumber segala kearifan lokal yang selaras dengan kebudayaan, yang berkembang di setiap daerah, termasuk di tatar Sunda," ujarnya.

    Sebab, Kang Dedi tak menyangsikan ihwal sikap toleran, damai, dan cinta Tanah Air dari para santrinya. "Ketika mereka menjadi ustad, kiai, bahkan ulama, pesan yang ditebarkan pun selalu soal pentingnya merawat kedamaian," tutur budayawan Sunda itu.

    Karena itu, Kang Dedi membuat program yang mentransformasikan pengajaran kitab kuning ke semua jenjang sekolah umum di daerahnya. "Kami telah merekrut 526 jebolan pesantren salafiyah untuk mengajarkan kitab kuning di sekolah umum," ucapnya.

    Program belajar mengaji kitab kuning di sekolah umum mulai tingkat SD hingga SMA dan sederajat itu akan melahirkan anak bangsa dari Purwakarta yang anti-radikalisme dan terorisme. "Tesis radikalisme dan terorisme yang sekarang berkembang pesat di kalangan pelajar dan mahasiswa harus dilawan dengan antitesis, ya, melalui pengajaran kitab kuning itu," kayanya.

    KH Adang Badrudin, pimpinan pondok pesantren Al-Hikamussalafiyah Cipulus, pesantren terbesar di Purwakarta, sangat mengapresiasi adanya Musabaqah Kitab Kuning dan program mengaji kitab kuning di sekolah umum tersebut. (*).


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sidang MK, Tudingan Kubu Prabowo - Sandiaga soal Pilpres 2019

    Pada 16 Juni 2019, Tim kuasa hukum Prabowo - Sandiaga menyatakan mempersiapkan dokumen dan alat bukti soal sengketa Pilpres 2019 ke Sidang MK.