Ingatkan Sejarah, Kontras Aceh Gelar Pameran Foto Masa Konflik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kontras Aceh menggelar pameran foto dan dokumen kekerasan masa konflik Aceh dalam rentang 1998-2005 di Lamlagang Banda Aceh, 22 Maret 2017. TEMPO/Adi Warsidi

    Kontras Aceh menggelar pameran foto dan dokumen kekerasan masa konflik Aceh dalam rentang 1998-2005 di Lamlagang Banda Aceh, 22 Maret 2017. TEMPO/Adi Warsidi

    TEMPO.COBanda Aceh – Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Aceh menggelar pameran foto dan dokumen-dokumen masa konflik Aceh, yang memuat berbagai kesaksian pelanggaran HAM masa lalu Aceh. Pameran bertema “Lorong Ingatan 1998-2005” itu digelar di kantor Kontras, Lamlagang, Banda Aceh. 

    “Pameran akan berlangsung selama tiga hari, sampai 25 Maret,” kata Koordinator Kontras Aceh, Hendra Saputra, Rabu, 22 Maret 2017. Foto-foto yang dipamerkan di antaranya tentang para korban selama masa konflik Aceh. 

    Menurut Hendra, pameran tersebut fokus pada kejadian pelanggaran HAM yang pernah terjadi dalam rentang 1998 sampai 2005. Saat itu, konflik Aceh masih terjadi sampai perjanjian damai disepakati antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia.

    Pameran itu, kata Hendra, bukan untuk membangkitkan luka lama Aceh, melainkan upaya untuk belajar dan membangun kepedulian dan dukungan publik terhadap penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu di Aceh. 

    Konflik dinilainya sebagai penyebab rusaknya pendidikan Aceh. Banyak guru yang menjadi korban dan sekolah-sekolah sengaja dibakar. “Kita hanya mengingatkan pemerintah. Memang sudah damai, tapi damai tak berarti kalau tak menyelesaikan kasus kekerasan masa lalu.”

    Kontras Aceh berharap pemerintah dapat menghadirkan keadilan untuk keluarga korban. Apalagi di Aceh sudah terbentuk lembaga Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh yang dapat disokong untuk melaksanakan tugas tersebut. 

    Mewakili Dinas Pendidikan Aceh, Zulkifli mengingatkan semua pihak tidak melupakan sejarah Aceh. Menjadikannya sebagai pelajaran dan penting untuk mengambil hikmah dari masa lalu agar tidak lagi berulang lagi ke depan. “Damai telah menghadirkan kenyamanan, siswa belajar baik dan pendidikan berjalan baik.” 

    Ketua KKR Aceh Apridal Darni menegaskan, ingatan tentang konflik masa lalu bukan untuk mengingat luka. Namun mengambil pelajaran agar segala keburukan masa konflik jangan pernah terjadi lagi. “Tugas kita memastikan anak cucu kita tidak mengalami lagi seperti dulu. Caranya dengan mengingat, mempelajari,” ujarnya. 

    ADI WARSIDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarif Baru Ojek Online di Tiap Zonasi yang Berlaku 18 Juni 2019

    Kementerian Perhubungan telah menetapkan tarif baru ojek online berdasarkan pembagian zona. Kemehub mengefektifkan regulasi itu pada 18 Juni 2019.