Kata Menteri Luhut, Kualitas Air Waduk Jatiluhur Sudah Berkurang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menkopolhukam Luhut Binsar Panjaitan, saat coffee morning dengan sejumlah wartawan di kantor Menkopolhukam, Jakarta, 21 April 2016. Luhut menyampaikan harapannya agar Indonesia jangan mau didikte negara asing. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Menkopolhukam Luhut Binsar Panjaitan, saat coffee morning dengan sejumlah wartawan di kantor Menkopolhukam, Jakarta, 21 April 2016. Luhut menyampaikan harapannya agar Indonesia jangan mau didikte negara asing. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Purwakarta - Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, menyatakan bahwa kondisi air waduk Jatiluhur saat ini sudah dalam kondisi memperihatinkan. "Tadi kita lihat, airnya sudah bau, kan. Kualitasnya pasti berkurang," kata Luhut saat melakukan kunjungan kerja ke Purwakarta, Rabu, 15 Maret 2017.

    Itu sebabnya, Luhut mengaku siap membantu manajemen Perum Jasa Tirta II Jatiluhur untuk segera menertibkan 30 ribu keramba jaring terapung yang menjadi biang kerok turun drastisnya kualitas air waduk Jatiluhur tersebut.

    Baca juga:
    Delegasi 16 Negara NARBO Kunjungi Hutan Konservasi Jatiluhur

    Menurut Luhut, yang membuat jumlah keramba jaring terapung melebihi kapasitas yang ditentukan akibat banyaknya pengusaha asal Jakarta yang berusaha di sana. "Memang harus dirapihkan," ujarnya.

    Hanya saja, lanjut Luhut, penertiban tersebut tidak cukup dilakukan di perairan waduk Jatiluhur saja. Penertiban juga harus dilakukan di daerah hulu yakni di waduk Saguling dan Cirata. "Harus satu kesatuan tidak bisa Jatiluhur saja. Mulai datang dari Saguling ke Cirata. Sudah dari Bandung area. Kalau sungai tidak ditata, airnya tidak mengalir dengan cepat, banjir lagi," kata dia.

    Baca pula:
    Luhut Berjanji Segera Buka Kajian Reklamasi Teluk Jakarta

    Menteri PUPR Basoeki Hadimuljono, mengaku segendang-sepenarian dengan apa yang disampaikan Luhut. "Jumlah keramba jaring terapung di waduk Jatiluhur paling banyak 3.100 unit," ujarnya.

    Tetapi, ia tidak menampik keinginan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang menginginkan agar keberadaan keramba jaring terapung di waduk Jatiluhur dihabiskan. "Ya, kami setuju. Apalagi kawasan waduk Jatiluhur juga akan dijadikan kawasan wisata berbasis air. Kalau masih ada jaring terapung, bagaimana orang mau bermain sky air di sini," ujarnya.

    Direktur Utama PJT II, Djoko Saputro, mengatakan, pihaknya akan melakukan upaya penertiban dengan melibatkan pihak pemkab, Kodim dan Polres Purwakarta. "Pada tahap awal, medio 2017 ada 1.500 keramba milik pengusaha luar Purwakarta yang akan ditertibkan. Sisanya, 1.500 unit lagi dilakukan pada tahun 2018," ujar Djoko. Dengan begitu, tahun depan waduk Jatiluhur benar-benar sudah bersih dari keramba jaring terapung.

    Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, menginginkan kondisi waduk serbaguna Jatiluhur tersebut benar-benar terbebas dari usaha keramba jaring terapung. "Saya tetap menginginkan zero jaring terapung," ujarnya.

    Sebab, keberadaan jaring terapung kecuali sudah memicu terdegradasinya kualitas air waduk buat kebutuhan air baku PAM Jaya dan membuat korosif infrastruktur bendungan juga menyebabkan persoalan sosial. "Belum lama ini kan dijadikan tempat persembunyian teroris," ujar Dedi.

    NANANG SUTISNA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cerita Saksi Soal Kebararan Pabrik Korek Api di Desa Sambirejo

    Inilah cerita saksi tentang kebakaran pabrik korek api gas di Desa Sambirejo, Langkat, Sumatera Utara memakan korban sampai 30 jiwa.