Presiden Jokowi 'Babat Alas' Bandara Baru di Kulon Progo  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi meninjau ruangan unit contoh di proyek Wisma Atlet Asian Games, Kemayoran, Jakarta, 29 Desember 2016.  Pembangunan rusun atlet Kemayoran telah dimulai sejak 17 Maret 2016. TEMPO/Subekti

    Presiden Jokowi meninjau ruangan unit contoh di proyek Wisma Atlet Asian Games, Kemayoran, Jakarta, 29 Desember 2016. Pembangunan rusun atlet Kemayoran telah dimulai sejak 17 Maret 2016. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Presiden Joko Widodo menghadiri prosesi “Babat Alas Nawung Kridha” atau membuka, membersihkan, merapikan, menata lahan, serta melakukan peletakan batu pertama pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta di Kulonprogo, Jumat, 27 Januari 2017.

    Pantauan Tempo, Jokowi beserta rombongan tiba di lokasi sekitar pukul 10.30. Kedatangan rombongan Presiden dipusatkan di Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo, DI Yogyakarta.

    Presiden mengenakan kemeja putih. Ia datang didampingi Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X, serta Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Danang S. Baskoro.

    Baca juga:

    Anggita, Perempuan yang Ditangkap Bersama Patrialis Akbar
    Debat Pilkada DKI, Tina Talisa dan Eko Prasojo Berbagi Tugas

    Dalam keterangan persnya, Danang mengatakan bahwa acara "Babat Alas Nawung Kridho" bertepatan dengan momentum 53 tahun usia Angkasa Pura I yang jatuh pada 20 Februari 2017 nanti. "Pembangunan bandara baru di Kulonprogo sebagai pengganti Bandara Adisutjipto yang sudah tak memungkinkan lagi untuk dikembangkan," ujarnya.

    Saat ini Bandar Udara Adisutjipto yang berkapasitas 1,2 juta orang per tahun harus melayani 7,2 juta penumpang per tahun. "Nantinya Bandara Internasional Yogyakarta ini akan mampu menampung hingga 15 juta penumpang per tahun,” ujar Danang.

    Bandara Adisutjipto yang saat ini beroperasi hanya memiliki luas terminal 15 ribu meter persegi, dengan kapasitas 1,2 juta penumpang per tahun. Landasan pacu (runway) Bandara Adisutjipto adalah 2.250 meter, dengan apron berkapasitas 8 pesawat.

    Nantinya, Bandara Internasional Yogyakarta yang dibangun di atas lahan seluas 587 hektar. Pada tahap I (2020-2031) akan memiliki terminal seluas 130 ribu meter persegi berkapasitas hingga 15 juta penumpang per tahun, dengan runway sepanjang 3.250 meter, dan apron berkapasitas 35 pesawat.

    Pada pengembangan tahap II (2031-2041), terminal Bandara Internasional Yogyakarta akan dikembangkan menjadi 195 ribu meter persegi yang mampu menampung hingga 20 juta penumpang per tahun, runway 3.600 meter, dan apron yang bisa diparkiri hingga 45 pesawat.

    Dengan pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta ini, Danang menambahkan, permasalahan lack of capacity akan teratasi, sehingga akan meningkatkan kualitas pelayanan kepada pengguna jasa bandara. Tak hanya untuk memenuhi standar pelayanan bandara bertaraf internasional di Yogyakarta, namun kehadiran bandara baru ini diharapkan dapat memberikan multiplier effect.

    "Keberadaan bandara ini akan memacu perkembangan perekonomian, aktivitas bisnis, serta semakin mendukung kegiatan pariwisata Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian selatan," katanya.

    Untuk pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta di Kulonprogo ini, Angkasa Pura I menyiapkan investasi Rp 9,3 triliun. Bandara ini ditargetkan selesai pada 2019.

    Selain Bandara Internasional Yogyakarta, Angkasa Pura I juga tengah melakukan pengembangan dua bandara lainnya, yaitu Bandara Ahmad Yani Semarang yang ditargetkan beroperasi tahun 2018 dan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin yang direncanakan selesai pada 2019.

    Bandara Internasional Yogyakarta ini akan dikembangkan sejalan dengan misi Angkasa Pura I mewujudkan konsep “airport city” di Yogyakarta, yang memadukan bandara dengan kawasan logistik, kawasan industri, serta kawasan wisata dalam satu kawasan ekonomi terpadu. Untuk mendukung konektivitas dengan kota-kota sekitarnya, selain dihubungkan dengan jalan nasional, bandara ini juga akan terintegrasi dengan jalur kereta api untuk mempermudah transportasi dari dan ke bandara.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?