Menag Lukman: Jangan Teruskan Sikap Menolak Kedatangan Tokoh  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lukman Hakim Saifudin beri keterangan pers usai menjalankan ibadah haji di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, 10 Oktober 2014. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Lukman Hakim Saifudin beri keterangan pers usai menjalankan ibadah haji di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, 10 Oktober 2014. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan sikap pihak tertentu menolak kedatangan tokoh dapat memicu perpecahan.

    "Saling penolakan di antara kita dengan alasan perbedaan kalau diteruskan, maka ancamannya sebagai sebuah bangsa kita akan terpecah belah dan semakin lemah," kata Menag Lukman, Minggu, 15 Januari 2017.

    Hal tersebut disampaikan Menag menyusul terjadinya penolakan kedatangan Wasekjen MUI Tengku Zulkarnain di Kalimantan Barat, beberapa hari lalu. Untuk itu, Lukman mengajak semua pihak untuk saling menghormati perbedaan guna menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

    Baca juga:
    Wasekjen MUI Tengku Zulkarnain Ditolak Warga Dayak
    Ini Alasan Wasekjen MUI Akan Datangi Sintang Lagi

    "Uni Sovyet sampai tahun 80-an adalah negara adidaya yang sangat kuat hampir dalam semua hal. Tidak ada yang membayangkan sebelumnya, kondisinya bisa seperti sekarang terpecah jadi beberapa negara karena tidak mampu menjaga persatuan," kata dia.

    Menurut Lukman, pendiri bangsa telah mewariskan Indonesia sebagai negara yang sangat religius dengan ajaran Islam rahmatan lil 'alamin. Maka, masyarakat agar turut menjaga dan mengembangkan ajaran tersebut di tengah nuansa Indonesia yang beragam.

    Tantangan bangsa saat ini, kata Menag, adalah merawat kebersamaan dengan baik terlebih di era globalisasi dan serba digital. Globalisasi menjadi sekat dan batas wilayah yang tidak kaku lagi karena semua orang telah menjadi warga dunia. Sementara era digital telah mengubah pola kehidupan masyarakat, bahkan tentang cara pandang dan nilai yang dianut.

    Simak:

    Menteri Lukman: Sulit Menjaga Kerukunan Agama Saat
    Menteri Agama Anggap Sebar Info Hoax Dosa

    Pada masa lalu, kata Menag, masyarakat umumnya mendapat nilai kebajikan dan nilai agama dari orang tua dan guru. Orang tua dan guru memberi pengetahuan tentang baik dan salah, kebenaran dan keburukan. Mereka juga yang memilah dan memilih mana yang perlu disampaikan dan yang belum.

    "Sekarang, anak cucu kita tidak lagi menjadikan orang tua dan guru sebagai satu-satunya sumber informasi dan kebajikan. Mereka lebih banyak mendapatkan semua itu dari gadget dan ponsel genggam. Ini lalu mempengaruhi cara hidup kita semua," kata dia.

    Maka, Menag mengajak masyarakat untuk berhati hati dalam menggunakan teknologi informasi. Menurut dia, era digital dan media sosial tidak bisa dihindari. Namun demikian, masyarakat harus arif dalam menggunakannya.

    "Kita harus menjadi orang yang mampu menilai apakah sebuah berita patut disebarkan atau tidak. Kalau kita tidak tahu apa manfaat menyebar berita itu, maka jangan disebar," katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Utang BUMN Sektor Industri Melonjak, Waskita Karya Paling Besar

    Sejumlah badan usaha milik negara di sektor konstruksi mencatatkan pertumbuhan utang yang signifikan. Waskita Karya menanggung utang paling besar.