Jumat, 14 Desember 2018

Belajar Toleransi dari Riyanto, Banser Korban Bom Natal  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Adik Riyanto, Biantoro, mengunjungi makam Riyanto di pemakaman umum Kelurahan/Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto, Jawa Timur. Riyanto adalah anggota Banser NU yang jadi korban bom Natal saat mengamankan kebaktian di gereja Eben Haezer, Kota Mojokerto, tahun 2000. TEMPO/ISHOMUDDIN

    Adik Riyanto, Biantoro, mengunjungi makam Riyanto di pemakaman umum Kelurahan/Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto, Jawa Timur. Riyanto adalah anggota Banser NU yang jadi korban bom Natal saat mengamankan kebaktian di gereja Eben Haezer, Kota Mojokerto, tahun 2000. TEMPO/ISHOMUDDIN

    TEMPO.CO, Mojokerto - Tepat 16 tahun lalu atau 24 Desember 2000, sekitar pukul 17.00, Riyanto, kala itu berusia 25 tahun, berpamitan pada ayahnya, Sukarmin, kini berusia 67 tahun. Mengenakan seragam loreng hijau khas Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU) dan mengendarai vespa kesayangannya, Riyanto menuju tempat tugas untuk bergabung dengan kepolisian mengamankan kebaktian di gereja Eben Haezer, Jalan Kartini Nomor 4, Kota Mojokerto, Jawa Timur.

    Tak ada firasat apa pun dalam benak Sukarmin. Dia tak menyangka saat itu adalah terakhir kali ia melihat Riyanto sebelum gugur terkena ledakan bom yang diamankannya ketika ikut menjaga gereja Eben Haezer pada malam sebelum puncak perayaan Natal.

    Sukarmin yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak, malam itu sedang berada di luar rumah mencari pengguna jasa becaknya. “Waktu itu saya di luar dan sempat mendengar katanya ada bom yang meledak di gereja,” ujar Sukarmin, warga Lingkungan Sabuk RT 02 RW 04, Kelurahan/Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, Senin, 26 Desember 2016.

    Sukarmin mendengar kabar bahwa korban bom yang meledak di gereja adalah orang Banser dari kampungnya. Ia pun bertanya ke teman-teman Riyanto sesama anggota Banser, tapi mereka sudah pulang ke rumah masing-masing.

    Ia pun semakin khawatir anaknya menjadi korban bom. Hingga akhirnya, ia bertemu dengan anggota Banser di salah satu rumah sakit dan dipastikan anaknya menjadi korban bom. “Namun saya tidak diizinkan melihat jenazahnya dan saya disuruh pulang ke rumah," katanya. Di rumahnya, sudah banyak orang berdatangan setelah mendengar Riyanto meninggal dunia akibat ledakan bom di gereja.

    Malam itu juga, jenazah Riyanto dibawa ke rumah duka dan keesokan harinya, 25 Desember 2000, dimakamkan di pemakaman umum Kelurahan/Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto. Riyanto, putra sulung dari tujuh bersaudara dari pasangan suami-istri Sukarmin dan Katinem, lahir di Kediri pada 19 Oktober 1975.

    Semasa hidupnya, Riyanto jadi tulang punggung keluarga. “Dia dulu bekerja menimbang kedelai di koperasi,” kata Sukarmin. Riyanto yang belum menikah hingga akhir hayatnya dikenal sebagai pribadi penurut. “Enggak pernah membantah nasihat orang tua,” tuturnya. Duka mendalam kadang masih dirasakan keluarga Riyanto. Seragam terakhir yang digunakan almarhum pun masih disimpan.

    Pengorbanan Riyanto juga dikenang Rudi Sanusi Wijaya, pendeta gereja Eben Haezer. Rudi menceritakan, seusai kebaktian pada 24 Desember 2000 malam, pengurus gereja menemukan dua barang mencurigakan di dua lokasi. “Pertama, bungkusan tas plastik ditemukan di bawah telepon umum di depan gereja dan yang satunya tas berisi kado di dalam gereja di bawah bangku,” ujarnya.

    Dua barang mencurigakan itu pun dibuka karena khawatir berisi bom. Tas plastik yang ditemukan di bawah telepon umum itu berisi rangkaian kabel. Salah satu anggota Banser NU, Riyanto, membuka lalu membuangnya di lubang gorong-gorong yang hanya berjarak sekitar 10 meter di depan gereja. Saat dibuang, bom tersebut meledak dan menewaskan Riyanto.

    Sedangkan tas yang ditemukan di bawah bangku di dalam gereja sempat dibuka Rudi. “Tidak ada kitab (Injil) dan berisi kotak seperti kado,” katanya. Lantas Rudi menyuruh pengurus gereja meletakkannya di depan gereja. Setelah diletakkan, bom kedua pun meledak.

    Menurut Rudi, diduga ada dua pelaku yang menaruh bom di dalam dan di luar gereja. “Salah satu pelaku diduga ikut kebaktian dan meninggalkan tas berisi bom,” katanya. Berdasarkan penyidikan kepolisian, kawanan pelaku bom adalah anak buah Ali Imron, pelaku bom Bali.

    Meski sudah 16 tahun, bekas kerusakan gereja dan bangunan sekitarnya akibat dua bom yang meledak masih terlihat. Misalnya, toko milik Ang Kin Kie, 62 tahun, di samping kiri gereja. “Kaca lemari toko pecah dan genting toko saya hancur berjatuhan,” kata Ang. Sampai sekarang, kaca lemari tokonya yang pecah belum diganti. Saat kejadian, Ang tidak berada di dalam toko dan sedang berada di luar kota. “Yang ada di dalam toko, kakak perempuan saya, tapi selamat,” katanya.

    Kerusakan cukup berat juga dialami studio foto Kartini yang berada tepat di depan gereja Eben Haezer. “Papan nama studio foto saya rusak dan atap hancur,” kata pemilik studio foto, Sulikin, 72 tahun.

    Sulikin juga mengalami luka di dada terkena serpihan paku dari bom kedua yang meledak di depan gereja atau persis di depan studio fotonya. “Waktu bom yang pertama meledak saya keluar melihat dan saya masuk lagi. Enggak lama kemudian, bom kedua meledak dan saya kena
    serpihan paku,” katanya.

    Pengorbanan Riyanto membawa berkah. Sebagai penghargaan atas jasanya, pihak gereja memberikan bantuan biaya pendidikan kepada salah satu adik Riyanto, Supartini. “Kami memberikan beasiswa kepada salah satu adiknya hingga lulus kuliah,” kata pendeta Eben Haezer, Rudi Sanusi Wijaya. Rudi mengatakan bantuan tersebut sebagai salah satu bentuk penghargaan atas jasa Riyanto.

    Selain itu, umat Kristiani, khususnya di Mojokerto, juga selalu mendoakan Riyanto setiap perayaan Natal. “Kami selalu mendoakan dan memperingatinya melalui Bamag (Badan Musyawarah Antar Gereja),” katanya.

    Adik Riyanto, Biantoro, membenarkan adiknya atau anak nomor enam, Supartini, menerima bantuan pendidikan dari gereja. “Mulai SMA sampai dia kuliah memang dibantu biaya tiap bulan,” ucapnya. Supartini telah lulus dari Universitas Islam Majapahit (Unim) Mojokerto lima tahun lalu dan sekarang sudah bekerja.

    Nama Riyanto juga diabadikan sebagai nama salah satu jalan di Kota Mojokerto. Jalan Riyanto berada di Kelurahan/Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto, Jawa Timur, di bantaran sungai Brangkal. Di ujung jalan dibangun gapura cukup megah bertuliskan nama Jalan Riyanto.

    Tak hanya toleransi antar-umat beragama, nilai pengorbanan ada pada sosok Riyanto. Untuk mengenang jasanya, Pengurus Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor bersama Bamag Indonesia menggelar peringatan (haul) kematian Riyanto pada 22 Desember 2016 lalu. Kegiatan ini dihadiri Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas, Ketua Umum Bamag Indonesia Agus Susanto, dan Kapolres Mojokerto Kota Ajun Komisaris Besar Nyoman Budiarja. Haul dimulai dengan mengheningkan cipta dan menaburkan bunga di tempat meledaknya bom di Gereja Eben Haezer dan dilanjutkan dengan berziarah ke makam Riyanto.

    ISHOMUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sayap OPM Kelompok Egianus Kogoya Meneror Pekerjaan Trans Papua

    Salah satu sayap OPM yang dipimpin oleh Egianus Kogoya menyerang proyek Trans Papua yang menjadi program unggulan Jokowi.