Ketika Istana Merdeka Berpesta Rayakan Sumpah Pemuda  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah mahasiswa Universitas Negeri Makassar menggelar aksi perayaan hari sumpah pemuda di Jalan Andi Pettarani, Makassar, Selasa 28 Oktober 2014. Aksi tersebut merupakan refleksi Sumpah Pemuda yang ke-86 untuk mengajak seluruh pemuda-pemudi menggalang keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. TEMPO/Fahmi Ali

    Sejumlah mahasiswa Universitas Negeri Makassar menggelar aksi perayaan hari sumpah pemuda di Jalan Andi Pettarani, Makassar, Selasa 28 Oktober 2014. Aksi tersebut merupakan refleksi Sumpah Pemuda yang ke-86 untuk mengajak seluruh pemuda-pemudi menggalang keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. TEMPO/Fahmi Ali

    TEMPO.CO, Jakarta - Istana Kepresidenan menyajikan perayaan Hari Sumpah Pemuda ke-88 dengan cara baru. Halaman Istana Merdeka yang sehari-hari tampak lapang dan sepi berubah menjadi meriah dan gemerlap oleh lampu warna-warni pada Jumat, 28 Oktober 2016. Malam ini, Istana Merdeka berubah fungsi menjadi latar bagi pertunjukan seni dan budaya.

    Ada dua panggung yang berdiri persis di depan Istana. Panggung utama berukuran sekitar 10 x 10 meter berdiri kokoh di depan Istana Merdeka. Panggung setinggi 170 sentimeter itu jadi penopang bagi pertunjukan seni dan budaya bertajuk Nusantara Berdendang.

    Di sisi panggung puluhan payung berwarna-warni mencoba menarik perhatian para penonton yang menyaksikan. Sedangkan panggung kedua berukuran lebih kecil dan rendah. Di atasnya berdiri seperangkat alat musik dengan ditemani para pemain yang mengenakan kostum berwarna merah.

    Pukul 19.45 WIB perayaan pun dimulai. Tarian Pajaga Makkunrai dari Sulawesi Selatan mengawali pertunjukan yang disaksikan sekitar 4.000 penonton. Di tengah fase awal, sebuah video sejarah yang menceritakan proses terjadinya Sumpah Pemuda diputar. Tak lupa narator menuntun penonton memahami rangkaian cerita yang tersaji.

    Tak hanya tarian melulu yang dipertontonkan, hadir juga pertunjukan Wayang Ajen dari Jawa Barat. Dalang Wawan Gunawan menyampaikan pesan tentang fokus pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla, yaitu pada kerja, kerja, dan kerja. Berikutnya satu per satu tarian dari berbagai daerah Indonesia tampil di atas panggung.

    Salah satu penampilan apik yang mendapat tepuk tangan meriah adalah perpaduan Tarian Kecak dari Bali dengan Tari Ratoh dari Aceh. Keduanya saling mengisi dan bergantian menari di atas panggung tanpa kehilangan ciri khasnya.

    Di ujung penampilan seluruh para penari tampil di panggung dan menutupi lapangan. Lagu Rasa Sayange menjadi pengiringnya. Pertunjukan yang berjalan dua jam itu ditutup dengan foto bersama antara para penari dan Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri.

    Penari Gandrung Sewu, Mahadewi Kusuma Wardani, mengaku merasa senang bisa tampil di Istana Kepresidenan. "Bangga karena tidak semua bisa tampil," kata pelajar sekolah menengah atas itu. Dia berharap pertunjukan seni dan budaya bisa rutin digelar di Istana.

    Kepala Sekretariat Presiden Darmansjah Djumala sebelumnya mengatakan Presiden Jokowi ingin merayakan Sumpah Pemuda dengan pesta. Presiden berpandangan Sumpah Pemuda adalah benih dari berdirinya Indonesia. Menurut dia, idenya pun datang dari Presiden Jokowi.

    ADITYA BUDIMAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Atlet E-Sport, Jadi Miliarder Berkat Hobi Bermain Video Game

    Dunia permainan digital sudah bukan tidak bisa dipandang sebelah mata. Kini, para atlet e-sport mampu meraup miliar rupiah hasil keterampilan mereka.