Alasan Awang Faroek Hengkang dari Golkar ke Nasdem

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Awang Faroek Ishak. TEMPO/Arnold Simanjuntak

    Awang Faroek Ishak. TEMPO/Arnold Simanjuntak

    TEMPO.CO, Samarinda - Tokoh Golkar yang sekaligus sesepuh kader Golkar Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak memutuskan hengkang dari partai yang membawanya menjadi gubernur. Awang Faroek kecewa karena sebagai kader senior merasa tak diperlukan oleh pengurus Golkar terpilih pimpinan Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari.

    Kepada awak media, Gubernur Awang Faroek Ishak merasa tak dihargai dengan diberi jabatan Ketua Dewan Sesepuh Golkar Kalimantan Timur. Menurut Awang, dalam struktur kepengurusan Golkar, baru kali ini ada kepengurusan Dewan Sesepuh. "Ada enggak dalam struktur Dewan Sesepuh. Sekarang nyata-nyata tak diperlukan jadi buat apa saya bertahan," kata Awang Faroek Ishak, Rabu, 19 Oktober 2016.

    Awang mengaku mengabdi dengan Golkar lebih dari 40 tahun. Dengan partai berlambang beringin tersebut, Awang Faroek sempat menjabat sebagai Anggota DPR RI. Selain itu, menjadi Bupati Kutai Timur selama dua periode dan menjabat gubernur dua periode dari Golkar.

    Awang mengaku selama menjabat sebagai gubernur merasa tak mendapat dukungan dari Partai Golkar. Awang mengaku selama menjalankan roda pemerintahan, justru terus mendapat perlawan dari kader Golkar di parlemen.

    "Justru gubernurnya dari Golkar malah berbagai kebijakan tak didukung, mayoritas kursi dari Golkar sekarang bagi saya Golkar bukan rumah yang nyaman untuk dihuni Awang faroek," kata Awang.

    Bergabung dengan Partai Nasdem diakui Awang Faroek Ishak bukan langkah baru. Menjadi kader partai besutan Surya Paloh diakuinya sudah memiliki ikatan batin. Awang mengaku bahkan menjadi bagian pendiri partai ini.

    "Di Partai Nasdem saya menjabat Ketua Dewan Pertimbangan, SK pengangkatan saya sudah saya pegang," kata Awang.

    Sementara itu Sekretaris Partai Golkar Kaltim, Khadir menyatakan partainya sama sekali tak bisa menghalangi Awang Faroek Ishak menentukan pilihan politik. Sebagai kader yang sudah senior, Khadir menyatakan Awang Faroek tak bisa terus masuk dalam struktur karena Golkar mengedepankan regenerasi.

    "Tak masalah Awang Faroek pindah partai, Golkar akan khawatir ditinggal rakyat dibanding ditinggal sosok figur," kata dia.

    FIRMAN HIDAYAT

    Baca juga:
    Patung Telanjang Hillary Clinton Muncul di Manhattan, AS
    Kasus Dimas Kanjeng, Suami Marwah Daud Datangi Polda Jawa Timur
    Jadi Pusat Gempa, Warga Subang Malah Tak Merasakan Guncangannya

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.