Kebaikan Bima Menjadi Contoh Implementasi Empat Pilar  

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga Kapujanggan, Pengging, Boyolali disuguhkan pagelaran wayang dalam sosialisasi Empat Pilar.

    Warga Kapujanggan, Pengging, Boyolali disuguhkan pagelaran wayang dalam sosialisasi Empat Pilar.

    INFO MPR - Desa Pengging, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah ramai Jumat 6 Oktober 2016. MPR bekerjasama dengan pemerintah Kabupaten Boyolali, malam itu menggelar pertunjukan wayang kulit di Gedung Ngeksipuro Kapujanggan, Desa Pengging.

    Pagelaran ini dalam rangka sosialisasi Empat Pilar MPR. Menampilkan dalang Ki Dwijo Kangko, dengan lakon Bima Suci. Masyarakat wilayah Kabupaten Boyolali dan sekitarnya  berduyun-duyun datang ke arena pertunjukan guna menyaksikan kesenian tradisional ini. Di antara masyarakat penggemar wayang itu, tampak pula para pejabat negara dan pemerintah yang hadir. Mereka adalah Ketua Badan Pengkajian MPR  Bambang Sadono, serta para anggota MPR terdiri dari Endang Srikarti Handayani, Sirmadji, dan Muhammad Thoha serta jajaran Forkompimda Kabupaten Boyolali.

    Pagelaran wayang ini dibuka oleh Ketua Badan Pengkajian MPR Bambang Sadono. Ketua pelaksana yang juga Kabag Pemberitaan, Hubungan Antar Lembaga dan Layanan Informasi, Biro Humas MPR Rharas Esthining Palupi mengatakan, "Wayang merupakan salah satu metode sosialisasi Empat Pilar, yaitu Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika".

    Bambang menyatakan sosialisasi Empat Pilar ini masih perlu dilakukan, sebab sekian lama Pancasila tidak lagi diajarkan di masyarakat, dan tidak lagi menjadi mata pelajaran di sekolah-sekolah. Banyak keluhan di tengah masyarakat. MPR adalah lembaga satu-satunya mendapat amanat untuk melakukan sosialisasi ini. Akan tetapi, menurut Bambang MPR tidak bisa melaksanakan sosialisasi sendiri. MPR telah melakukan kajian, yang kesimpulannya, perlu lembaga khusus untuk melaksanakan sosialisasi Empat Pilar ini.

    Untuk masyarakat Boyolali, menurut Bambang, memang dipilih metode pagelaran kesenian daerah, wayang.

    "Melalui kesenian wayang bisa mendengarkan musik, bisa melihat sinden, sekaligus menyaksikan ketrampilan dalang menyampaikan pesan-pesan yang disampaikan melalui daolang mudah diserap masyarakat," katanya.

    Lakon Bima Suci dianggap tepat karena sesuai situasi  sekarang. Tokoh Wrekudoro atau Bima dalam cerita wayang digambarkan sebagai pribadi yang tegas, jujur, tidak 2 membeda-bedakan dan dia melakukan sesuatu karena dia melihat adanya ketimpangan. Dalam 2 dengan Empat Pilar, perilaku Wrekudoro mencerminkan nilai-nilai yang terkandung dalam Empat Pilar. (*)

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.