Soal Arogansi Ahok, Tim Pemenangan: Itu Ciri Khas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua Tim Pemenangan Ahok-Djarot, Dono Prasetyo menyerahkan sejumlah berkas tambahan bersama Staf Pribadi Ahok, Ryan Ernest di KPUD DKI Jakarta pada Selasa, 4 Oktober 2016. Tempo/Avit Hidayat

    Wakil Ketua Tim Pemenangan Ahok-Djarot, Dono Prasetyo menyerahkan sejumlah berkas tambahan bersama Staf Pribadi Ahok, Ryan Ernest di KPUD DKI Jakarta pada Selasa, 4 Oktober 2016. Tempo/Avit Hidayat

    TEMPO.COJakarta - Wakil Ketua Tim Pemenangan Ahok-Djarot, Dono Prasetyo, tak mempermasalahkan hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang menyebut elektabilitas Gubernur DKI Jakarta inkumben Basuki Tjahaja Purnama turun karena arogansi Ahok selama memimpin. Menurut dia, hasil survei itu akan jadi masukan bagi Tim Pemenangan.

    "Itu ciri khas Pak Ahok, Tim Pemenangan tidak akan intervensi ke sana," kata Dono saat ditemui di Komisi Pemilihan Umum Daerah DKI Jakarta sebelum menyerahkan berkas pendaftaran calon gubernur. Menurut dia, karakter Ahok yang meledak-ledak justru menjadi ciri khasnya sebagai inkumben.

    Alasannya, publik Jakarta tidak melihat elektabilitas pemimpin, tapi melihat tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Ahok selama lima tahun terakhir. Dono mengklaim Ahok memiliki tingkat kepuasan publik mencapai 70 persen.

    Menurut Dono, sejauh ini Ahok telah menjalani pekerjaannya dengan baik. Ia juga tak mempersoalkan kebijakan Ahok yang menggusur rumah warga dengan cara yang dianggap arogan. "Ini bagian dari pekerjaan Pak Ahok, dia tidak jaim," ucapnya.

    Dono berencana mengadakan rapat konsolidasi dengan Tim Pemenangan terkait dengan hasil survei tersebut. Hasil survei LSI itu akan menjadi bahan pertimbangan dan masukan untuk menentukan strategi pemenangan.

    Kata Dono, strategi pemenangan kali ini berbeda dengan strategi pada pemenangan era Jokowi-Ahok. Saat itu Jokowi dan Ahok bertarung sebagai penantang inkumben. Kini, dia akan menunjukkan hasil kinerja Ahok selama lima tahun terakhir.

    Dalam survei terbarunya, LSI menyebutkan tingkat popularitas Ahok anjlok dari 59 persen pada Maret menjadi 31 persen pada Oktober. Anjloknya elektabilitas ini dipengaruhi faktor komunikasi yang buruk dari Ahok kepada masyarakat. Selain itu, kebijakan Ahok dianggap memihak pengembang dan tidak adil.

    AVIT HIDAYAT

    Baca juga:
    Keterpilihan Ahok Merosot: Inilah 3 Hal Menarik & Mengejutkan
    Heboh Manifesto Komunis: Polisi Gegabah Sita Buku Malaysia


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi Diduga Terjerat Dana Hibah

    Perkara dugaan korupsi Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi bermula dari operasi tangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi pada 18 Desembe