Kualitas Buruk, Warga Adukan Raskin ke Gubernur Jawa Tengah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi seorang anak yang ikut mengantri mendapatkan jatah beras Raskin yang dibagikan gratis di kawasan Babakan Ciparay, Bandung, Jawa Barat (23/5). Setiap rumah mendapat jatah beras raskin itu sebanyak 2 kg. Warga mendapat jatah Raskin setiap satu bulan sekali. TEMPO/Prima Mulia

    Ekspresi seorang anak yang ikut mengantri mendapatkan jatah beras Raskin yang dibagikan gratis di kawasan Babakan Ciparay, Bandung, Jawa Barat (23/5). Setiap rumah mendapat jatah beras raskin itu sebanyak 2 kg. Warga mendapat jatah Raskin setiap satu bulan sekali. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Sukoharjo - Warga Girimarto, Kabupaten Wonogiri, mengadukan beras untuk rakyat miskin kualitas buruk dari pemerintah kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

    "Dalam satu tahun kami hanya menerima raskin dengan kualitas baik sebanyak dua kali, lainnya buruk," kata Haryanti, warga Kabupaten Girimarto, Kecamatan Girimarto, saat berdialog dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Kabupaten Sukoharjo, Sabtu, 24 September 2016.

    Dialog orang nomor satu di Jawa Tengah dengan sejumlah warga itu berlangsung di Balai Desa Pandean, Kecamatan Grogol, dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional 2016.

    Haryanti mengungkapkan bahwa pada raskin yang diterimanya itu banyak terdapat kutu sehingga tidak layak dikonsumsi.

    "Saya dan beberapa warga lainnya memilih menjual raskin ke gabungan kelompok tani di desa," ujarnya.

    Ia mengaku mendapat jatah raskin 15 kilogram yang ditebus dengan Rp 25 ribu, tapi karena pendataan warga miskin juga buruk, sehingga tidak semua yang seharusnya berhak, mendapat jatah.

    "Saya pun membagi jatah raskin dengan tiga tetangganya dan kami 'urunan', biasanya saya kasih Rp 10 ribu, sisanya dibagi tetangga," katanya.

    Haryanti juga mengaku raskin yang dibelinya dengan modal Rp 10 ribu itu dibeli gapoktan dengan harga Rp 29 ribu, sehingga dia mendapat untung Rp 19 ribu.

    Mendengar pernyataan seorang warga Kabupaten Wonogiri penerima raskin itu, Ganjar memberikan apresiasi karena yang bersangkutan sudah bersikap terbuka dan jujur dalam mengungkap realitas yang terjadi di masyarakat.

    Menurut dia, fenomena bagi-bagi jatah raskin dan praktek jual-beli juga disebabkan belum benarnya pengelolaan raskin oleh pemerintah.

    "Saya akan minta dinas terkait dan Bulog untuk mengecek, seharusnya sudah tidak zamannya lagi raskin buruk, kalau rakyat miskin saja tidak doyan makan, terus raskin itu setelah dijual, diapakan, dan yang makan siapa?" ujarnya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.