Minggu, 22 September 2019

Jokowi Sering Sedih Baca Bagian Berita Ini di Situs Online  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo dan Ibu Iriana Joko Widodo saat mengunjungi Desa Cangkuang Wetan, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, 17 September 2016. Presiden mengkampanyekan program pemberian makanan tambahan (PMT) bagi Balita dan anak usia sekolah. TEMPO/Prima Mulia

    Presiden Joko Widodo dan Ibu Iriana Joko Widodo saat mengunjungi Desa Cangkuang Wetan, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, 17 September 2016. Presiden mengkampanyekan program pemberian makanan tambahan (PMT) bagi Balita dan anak usia sekolah. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo mengaku memiliki kebiasaan khusus ketika membaca berita-berita di situs berita online. Kebiasaan khusus itu adalah membaca bagian komentar terlebih dulu sebelum isi berita.

    "Saya sering kali melompati judulnya dan langsung membaca komentarnya," ujar Presiden Jokowi saat meresmikan Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, seperti dalam rilis Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, Senin, 19 September 2016.

    Menurut Presiden Jokowi, kolom komentar berita di situs online kini cenderung menyedihkan. Sebab, isinya bukan lagi diskusi antara pembaca, melainkan perang antarpembaca berita itu, dari saling hina, saling sindir, atau cyber bullying.

    Rekomendasi Berita
    Menonton Mario Teguh di TV, Ini yang Dirasakan Kiswinar
    Usut Senjata Gatot, Polisi Gandeng Kedubes Amerika

    Seharusnya, kata Jokowi, peperangan itu tak perlu ada di kolom komentar. Sebab, jika dibiarkan, bakal menjadi kebiasaan. Jika sudah menjadi kebiasaan, perlahan akan menggantikan nilai karakter bangsa Indonesia yang penuh budi pekerti dan sopan santun.

    "Ada sebuah nilai-nilai yang saat ini menginfiltrasi kita (lewat saling sindir dan memaki di berita online). Itulah nanti yang akan menghilangkan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia,” tutur Presiden Joko Widodo.

    Dia menyarankan agar aksi saling hina dan sindir itu dihentikan karena bisa mengancam nilai-nilai Indonesia. Di satu sisi, dirinya mengaku sudah meminta pertolongan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar saling hina dan sindir itu bisa ditumpas sejak akarnya.

    "Saya sudah menyampaikan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) agar persentase pendidikan etika, budi pekerti, dan sopan santun ditingkatkan di SMP dan SD," ujar Presiden Jokowi.

    ISTMAN M.P.

    Rekomendasi Berita
    Menonton Mario Teguh di TV, Ini yang Dirasakan Kiswinar
    Kantongi 3 Suara Parpol, Yusril Pede Aja Maju di Pilkada DKI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi Diduga Terjerat Dana Hibah

    Perkara dugaan korupsi Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi bermula dari operasi tangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi pada 18 Desembe