Enam Haji Asal Nunukan Juga Berangkat Lewat Filipina  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah sanak keluarga menyambut kedatangan jemaah haji kloter pertama untuk Kota Samarinda, Kalimantan Timur. TEMPO/Firman Hidayat

    Sejumlah sanak keluarga menyambut kedatangan jemaah haji kloter pertama untuk Kota Samarinda, Kalimantan Timur. TEMPO/Firman Hidayat

    TEMPO.COSamarinda - Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, M. Shaberah mengungkapkan, saat ini ada enam warga Nunukan yang berada di Tanah Suci. Diketahui, mereka ke Mekah menggunakan kuota haji Filipina.

    "Tim Pendamping Haji kami sekarang di Mekah dan bertemu dengan 5-6 orang Nunukan di sana. Katanya, mereka ke Tanah Suci lewat Filipina," kata Shaberah, Selasa, 23 Agustus 2016.

    Shaberah mengaku sudah memeriksa nama warga Nunukan tersebut dalam rombongan haji Indonesia dari Nunukan. Tapi mereka tak terdaftar. "Sudah ada yang lolos duluan di sana," ujarnya.

    Shaberah mengatakan, di Nunukan, untuk berangkat haji, warga memang harus antre lama. Jika mendaftar sekarang, 24 tahun ke depan mereka baru bisa berangkat.

    Sedangkan jatah di Filipina masih banyak yang kosong untuk tahun ini saja. Menurut Shaberah, Filipina mendapat jatah dari Arab Saudi sebanyak 8.000 orang. Tapi yang terisi tak sampai 7.000. Artinya, memang masih banyak kursi yang kosong. "Inilah yang dimanfaatkan biro perjalanan di sana untuk memenuhi kuota," tuturnya.

    Modus berhaji dengan memanfaatkan jatah Filipina diakuinya sudah lama berlangsung, yakni sejak 2011. Tapi selama itu pula tak pernah terbongkar.

    Ongkos haji di Filipina, Shaberah menjelaskan, memang tak jauh berbeda dengan di Indonesia. Beberapa anggota jemaah haji yang sudah berhasil berangkat ke Mekah mengaku harus membayar Rp 80 juta. "Itu sudah untuk semuanya, termasuk biaya hidup selama di Tanah Suci," kata Shaberah. 

    FIRMAN HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.