Kamis, 15 November 2018

Edisi Kemerdekaan (3): Kerjabilitas, Mengaryakan Disabilitas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jajaran staf dan founder kerjabilitas.com berfoto bersama di kantor mereka Jalan Sidikan no. 82A, Umbulharjo, Yogyakarta, 11 Agustus 2016. TEMPO/Pius Erlangga

    Jajaran staf dan founder kerjabilitas.com berfoto bersama di kantor mereka Jalan Sidikan no. 82A, Umbulharjo, Yogyakarta, 11 Agustus 2016. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.CO, Jakarta - Sewaktu kecil sampai remaja, Muhammad Rubby Emir Fahreza sering merasa risih ketika teman-temannya main ke rumah. Dia malu karena adiknya merupakan penyandang keterbelakangan mental. “Kalau ada teman, saya selalu menyuruh adik saya sembunyi di belakang rumah,” kata pria yang kini berusia 35 tahun itu.

    Beranjak dewasa, sikap Rubby justru berbalik. Dia menjadi sangat peduli kepada penyandang disabilitas. “Dulu saya diskriminatif karena ketidaktahuan.” Pengalaman kerja sarjana Desain Grafis Universitas Negeri Surabaya ini membawanya semakin dekat dengan dunia penyandang disabilitas.

    Setelah malang-melintang menjadi relawan di sejumlah lembaga, Rubby merasa ingin berbuat lebih. Pada awal 2014, ia mendirikan sendiri lembaga Saujana yang berfokus pada isu kemanusiaan dan disabilitas. Di Saujana, ide membuat situs penyedia lowongan pekerjaan (job matching) bagi kaum difabel muncul.

    Pada tahun yang sama, proposal Rubby untuk membuat situs itu memenangi program Cipta Media Seluler dari Ford Foundation. Bisa dibilang, Kerjabilitas.com adalah satu-satunya situs Internet di Indonesia yang menyediakan layanan tersebut. Sekarang, 4.000 orang dari Aceh sampai Papua terdaftar sebagai anggota. Puluhan perusahaan lokal, nasional, maupun asing menjadi mitra.

    Awalnya, kata dia, tak gampang menjalankan situs ini. Apalagi ada stigma negatif bahwa perusahaan di Indonesia tertutup pada kelompok minoritas ini. “Banyak yang masih berpikir penyandang disabilitas tak bisa kerja,” ujarnya.

    Lalu merekrut kaum difabel dipandang membutuhkan biaya besar untuk menyediakan fasilitas. "Padahal sarana bagi penyandang disabilitas itu tak seribet yang dibayangkan, malah bisa sangat simpel dan murah,” ujar Rubby. Misalnya cukup dibuatkan papan kayu sederhana untuk pergerakan kursi roda.

    Tak mudah pula meyakinkan perusahaan untuk membuka lowongan bagi penyandang disabilitas. Tugas ini diberikan kepada Daru Patma, 24 tahun, yang juga penyandang tunadaksa. Setiap hari staf Lembaga Saujana ini bertugas "mengetuk pintu" perusahaan yang sedang mencari pegawai.

    "Saya menghubungi satu per satu perusahaan itu dan menanyakan lowongan bagi penyandang disabilitas yang tersedia," ujarnya. "Kadang dalam seminggu bisa tak dapat sama sekali." Kebanyakan perusahaan yang dihubunginya tak mau menerima difabel karena tak punya akses untuk lowongan itu.

    Muhammad Rubby Emir Fahreza, penggagas sekaligus pendiri aplikasi Kerjabilitas.com.


    Setelah lowongan tersedia, tak lantas masalah selesai. Menurut Daru, tidak gampang mendorong anggota melamar pekerjaan. Stigma dan diskriminasi menekan mentalitas mereka. Untuk memotivasi para pencari kerja di Kerjabilitas, ada tautan khusus kursus online bernama Pustakabilitas. Isinya adalah materi pengembangan skill dan karier.

    Rubby percaya bahwa lemahnya satu indra membuat indra lain dan bakat penyandang disabilitas menguat. Pandangan ini membuat Kerjabilitas mampu merangkul banyak mitra dan menyalurkan sekitar 10 persen anggotanya ke perusahaan-perusahaan itu.

    Sebagai contoh, Kerjabilitas berhasil menyalurkan sejumlah penyandang tunanetra ke sebuah bank nasional di cabang Surabaya untuk menjadi tenaga telemarketing karena kemampuan bicaranya kuat. Lalu ada pula seorang tunarungu yang menjadi tenaga administrasi di sebuah perusahaan asing di Jakarta. Tunarungu ternyata lebih produktif saat bekerja karena tak terganggu oleh suasana seriuh apa pun.

    Sejumlah perusahaan multinasional atau asing kemudian bergabung menjadi mitra Kerjabilitas. Para perusahaan asing itu, kata Rubby, justru lebih inklusif. “Karena di negara asalnya ada kultur dan regulasi untuk memberi kuota pekerjaan bagi penyandang disabilitas.” Sejumlah mitra Kerjabilitas antara lain Carrefour, Hotel Shangri-La, L’Oreal, Bank CIMB Niaga, Bank BNI Surabaya, Bank BRI, Wikimedia, dan ratusan perusahaan menengah serta UMKM.

    Niat mulia Rubby melalui Kerjabilitas akhirnya mendapatkan pengakuan internasional. Salah satunya terpilih dalam program Google Launchpad. Program ini, kata dia, ibarat batu loncatan lebih tinggi bagi Kerjabilitas. “Karena dari situ jangkauan Kerjabilitas menjadi lebih luas.”



    PRIBADI WICAKSONO (YOGYAKARTA) | PRAGA UTAMA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pokemon Hidup Dalam Detektif Pikachu

    Hollywood baru saja mengadaptasi karakter favorit dunia dari kartun Pokemon, Pikachu, ke dalam film layar lebar.