Haris Azhar Ingin Serahkan Informasi Lebih Detail ke Jokowi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Koordinator KontraS, Haris Azhar, bersiap memberikan keterangan pers di Jakarta, 5 Agustus 2016. Haris membeberkan pengakuan Freddy yang didapatkannya saat bertemu di Nusakambangan pada 2014, lewat tulisan bertajuk 'Cerita Busuk Seorang Bandit' ke akun Facebook resmi KontraS. ANTARA/Widodo S. Jusuf

    Koordinator KontraS, Haris Azhar, bersiap memberikan keterangan pers di Jakarta, 5 Agustus 2016. Haris membeberkan pengakuan Freddy yang didapatkannya saat bertemu di Nusakambangan pada 2014, lewat tulisan bertajuk 'Cerita Busuk Seorang Bandit' ke akun Facebook resmi KontraS. ANTARA/Widodo S. Jusuf

    TEMPO.CO, Jakarta - Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Haris Azhar, berniat menyampaikan informasi lebih detail kepada Presiden Joko Widodo seputar skandal kasus narkoba Freddy Budiman.

    Dia ingin menyerahkan informasi itu secara langsung kepada Jokowi. "Karena bahan ini cukup kompleks, serius, dan tidak bisa diselesaikan dengan cara per institusi saja," kata Haris di Jakarta, Sabtu, 6 Agustus 2016.

    "Mudah-mudahan (informasi) itu menarik," kata Haris. Dia mengatakan informasi itu akan dirilis ke publik, tapi setelah dia bertemu dengan Jokowi. Dia tak ingin membeberkan jika tidak ada pihak yang mau menindaklanjutinya.

    Haris mengaku masih berusaha bertemu dengan Jokowi. Cerita yang ingin disampaikan Haris bisa lebih detail dibandingkan dengan tulisannya tentang Freddy. "Bukan sempurna, tapi ada pendalaman dalam beberapa hal," katanya.

    Haris mengapresiasi langkah dari Kepolisian dan Badan Narkotika Nasional yang membentuk tim untuk mengusut informasi darinya. Dia pun meminta lembaga itu menyampaikan perkembangan kajiannya secara terbuka. "Karena ditunggu-tunggu oleh masyarakat."

    Tulisan Haris Azhar yang dia muat di akun Facebook-nya tersebar secara cepat di media sosial pada Kamis malam, 28 Juli 2016. Pesan itu tersiar beberapa jam sebelum terpidana Freddy Budiman dieksekusi mati.

    Dalam tulisan itu, Haris mengaku pernah mengunjungi Freddy di Lembaga Pemasyarakatan Batu, Nusakambangan, Jawa Tengah, pada 2014. Saat itu, Freddy menceritakan kepada Haris bahwa selama ini dia dibantu oleh petugas Badan Narkotika Nasional serta Bea dan Cukai untuk memasukkan narkoba ke Indonesia. Freddy juga menyatakan telah menyetor uang miliaran rupiah ke pejabat BNN dan Mabes Polri.

    REZKI ALVIONITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.