Pemudik Diminta Waspadai Jalur Selatan Jawa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi mudik Lebaran. Shutterstock.com

    Ilustrasi mudik Lebaran. Shutterstock.com

    TEMPO.COJakarta - Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyatakan musim mudik Lebaran tahun ini rawan terjadi banjir dan longsor. Sebab, fenomena cuaca La Nina menyebabkan curah hujan tinggi.

    “Ancaman bencana lebih besar,” kata Sutopo di Graha BNPB, Jakarta, Kamis, 30 Juni 2016.

    Sutopo mengingatkan terutama pemudik di Jawa untuk waspada pada 1-5 Juli lantaran curah hujan tinggi pada waktu tersebut. Beberapa daerah rawan banjir dan rob berada di sekitar jalur Pantai Utara. Sedangkan longsor rawan terjadi di jalur tengah dan selatan Pulau Jawa, seperti di daerah Ambarawa dan jalur perbukitan Nagrek. Longsor juga rawan pada jalur lintas tengah dan barat Sumatera, terutama di daerah Bukit Barisan.

    Kepala Dinas Bina Marga Jawa Barat Guntoro mengatakan sudah menyebar lebih dari 500 petugas di 32 lokasi di sepanjang arus mudik di jalur utara, tengah, dan selatan. “Kami siaga terutama mengawasi pohon tumbang dan jalan berlubang,” katanya. Menurut dia, pada masing-masing posko itu disediakan satu set alat berat.

    Sementara itu, hujan deras yang berlangsung sejak Rabu malam hingga Kamis pagi di wilayah Pasuruan, Jawa Timur, mengakibatkan air sungai meluap dan menggenangi jalur Pantura Surabaya-Probolinggo. Air menggenang dengan ketinggian 30-60 sentimeter. Akibatnya, jalur Pantura ditutup dan dialihkan ke arah Purwosari-Pandaan-Porong.

    Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur Inspektur Jenderal Anton Setijadi mengatakan sudah memasang 133 CCTV untuk memantau arus lalu lintas di beberapa titik. Untuk menjaga keamanan dan kenyamanan pemudik, sebanyak 12.197 personel gabungan kepolisian dan jajarannya juga berjaga di sejumlah titik.

    Permintaan waspada juga berlaku buat pemudik lewat jalur laut. Sebab, menurut Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yunus S. Swarinoto, gelombang tinggi terjadi karena adanya peningkatan kecepatan angin hingga 50 kilometer per jam.

    Adapun titik-titik gelombang tinggi terdapat di wilayah perairan utara dan barat Aceh, perairan barat Kepulauan Nias dan Mentawai, perairan Kepulauan Enggano Bengkulu, perairan barat Lampung, Selat Sunda bagian selatan, dan perairan selatan Jawa-Nusa Tenggara Barat. Selain itu, di Selat Bali bagian selatan, Selat Lombok bagian selatan, Laut Sawu, perairan selatan Kupang sampai Pulau Rote, Laut Flores, Laut Banda, perairan selatan Ambon, perairan Kepulauan Kai dan Aru, perairan Kepulauan Babar dan Tanimbar, serta Laut Arafuru. 

    “Penyeberangan utama, seperti dari Pelabuhan Merak ke Bakaheuni dan Ketapang ke Gilimanuk, diperkirakan masih relatif aman,” tutur Yunus.

    FAUZY DZULFIQAR |AHMAD FIKRI | SITI JIHAN | DANANG FIRMANTO | NUR HADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Merapi Dibanding Letusan Raksasa Sejak 7200 Sebelum Masehi

    Merapi pernah meletus dengan kekuatan 4 Volcanic Explosivity Index, pada 26 Oktober 2010. Tapi ada sejumlah gunung lain yang memiliki VEI lebih kuat.