Ridwan Kamil Soal Pancasila: Waspadai Jika Terlalu Korean Pop

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, dalam konferensi pers terkait beredarnya informasi dirinya yang menampar sopir di Bandung, 21 Maret 2016. Kang Emil mengatakan hanya memegang dagu seorang sopir. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, dalam konferensi pers terkait beredarnya informasi dirinya yang menampar sopir di Bandung, 21 Maret 2016. Kang Emil mengatakan hanya memegang dagu seorang sopir. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.CO, BANDUNG - Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan agar Pancasila tak hanya dihafal tapi juga dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk diperkenalkan ke luar negeri agar bangsa lain mengenal kekokohan identitas Indonesia.

    "Saya mengutip pidato Bung Karno supaya orang-orang di dunia tahu Pancasila itu apa, nah Bung Karno menerjemahkannya dengan sederhana ke dalam Bahasa Inggris saat pidato di Amerika Serikat menjadi:  Believe in God, Humanity, Nationalism, Democracy dan Social Justice, itu kalau diomongin ke orang bule baru ngeh," kata Ridwan Kamil di Gedung Merdeka, Bandung usai menghadiri pembukaan Bicara Buku Bersama Wakil Rakyat yang merupakan rangkaian Peringatan Pidato Bung Karno di Bandung pada Senin, 30 Mei 2016.

    Ridwan Kamil menilai, saat ini banyak generasi muda yang justru mengadopsi identitas bangsa lain. "Jadi kalau sekarang anak-anak muda terlalu Korean Pop, itu kita harus waspada, makanya Pancasila itu harus mulai diamalkan. Dimulai dari dihafal, gimana mau mengamalkan kalau tidak hafal? Setelah itu, ceritakan pada dunia bahwa lima dasar inilah yang membedakan kita dengan tetangga-tetangga kita," katanya.

    Tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila saat Soekarno pertama kali mengenalkan Pancasila melalui pidatonya. Acara puncak pidato tersebut akan digelar di Bandung dengan kehadiran Presiden Joko Widodo yang akan melakukan napak tilas dengan berjalan kaki dari Gedung Merdeka menuju penjara Banceuy, tempat Soekarno pernah di penjara.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.