PDIP dan Gerindra Sepakat Tak Usung Calon Independen di DKI

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Dewan Pertimbangan Daerah Gerindra Jakarta Muhammad Taufikdan Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan DKI Gembong Warsonoberfoto bersama usai Rapat Kerja Daerah (Rakerda) yang digelar Dewan Perwakilan Daerah Partai Gerindradi Gedung Joeang, Jakarta, 8 Mei 2016. Tempo/Larissa

    Ketua Dewan Pertimbangan Daerah Gerindra Jakarta Muhammad Taufikdan Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan DKI Gembong Warsonoberfoto bersama usai Rapat Kerja Daerah (Rakerda) yang digelar Dewan Perwakilan Daerah Partai Gerindradi Gedung Joeang, Jakarta, 8 Mei 2016. Tempo/Larissa

    TEMPO.CO, Jakarta - Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan hari ini, Kamis 26 Mei 2016 bertemu dengan politikus Partai Gerindra, dan membahas Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017.  Usai pertemuan di kantor DPD PDIP DKI Jakarta di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Muhammad Taufik, Ketua DPD Partai Gerindra mengatakan, keduanya sedang menjajaki kemungkinan berkoalisi untuk melawan petahana Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

    Ini belajar dari pengalaman Pemilihan Gubernur Jakarta 2012 lalu ketika dua partai itu mengusung Joko Widodo dan Basuki. "Enggak ada yang menyangka kami bisa lawan inkumben," kata Taufik. "Tapi malah menang besar."

    Nama yang akan diusung pada pemilihan mendatang, kata Taufik, belum mengerucut. Soalnya, kedua partai tersebut masih melakukan penjaringan masing-masing. "Nanti kami temukan nama yang pas dari dua kubu ini. Pasti ketemu, kami gampang. Sudah biasa koalisi bareng," kata Taufik.

    Hingga saat ini, Gerindra sudah memilih tiga nama yang akan diajukan ke pengurus pusat pada 30 Mei mendatang. Yaitu Purnawirawan Jenderal bintang tiga Sjafrie Sjamsudin, pengacara kondang Yusril Ihza Mahendra, dan pengusaha Sandiaga Uno. Sedangkan PDIP memiliki 26 nama yang sedang mengikuti proses ujian internal bakal calon kepala daerah.

    Pelaksana Tugas Ketua DPD PDIP Jakarta Bambang Dwi Hartono  mengaku belajar dari  Pilkada serentak lalu, ada 36 daerah berhasil dimenangkan koalisi PDIP dan Gerindra. "Bukan tidak mungkin Jakarta jadi yang ke-37," katanya. Bila koalisi di Jakarta, kedua partai ini memiliki total 43 kursi legislatif, jauh lebih cukup dari ambang batas 22 kursi untuk mengusung calon.

    Gerindra dan PDIP bersetuju satu hal, mereka mengusung calon kandidat sendiri, bukan mendukung calon perorangan.  "Partai itu memegang amanat Undang-undang sebagai tempat kaderisasi pemimpin. Partai harus bangga dan konsisten memasok petugasnya di eksekutif dan legislatif," kata Bambang. "Jadi sangat lucu kalau partai mendukung calon perseorangan."

    Seperti diketahui, tokoh yang berniat maju melalui jalur perorangan adalah Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Ahok dibantu oleh kelompok relawan "Teman Ahok" untuk mengumpulkan data KTP dukungan.

    Lewat Teman Ahok,  ia sudah mengumpulkan 870 ribu dukungan. Namun ini tak menghalangi Partai Golkar untuk menyatakan dukungannya kepada politikus asal Belitung itu. Ketua Umum Golkar Setya Novanto bertemu Ahok  beberapa waktu lalu untuk menyatakan dukungannya. "Teman-teman Golkar bilang langsung saja majulah pasti entar kita dukung. Tapi proses partai beda, kan," kata Basuki. Selain Golkar, Partai Nasdem dan Hanura lebih dulu menyatakan dukungannya pada Basuki. Meski independen, Basuki didukung 24 kursi legislatif dalam pemilihan mendatang.

    INDRI MAULIDAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?