Panglima TNI Antisipasi Letusan Konflik di Laut Cina Selatan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tiongkok diduga membangun sistem radar di beberapa pulau-pulau di Laut Cina Selatan yang diklaimnya. Asian Maritime Transparency Initiative, pada 23 Februari 2016, merilis foto-foto satelit yang memperlihatkan pembangunan instalasi radar di kepulauan yang menjadi sengketa. REUTERS/CSIS Asia Maritime Transparency Initiative/DigitalGlobe

    Tiongkok diduga membangun sistem radar di beberapa pulau-pulau di Laut Cina Selatan yang diklaimnya. Asian Maritime Transparency Initiative, pada 23 Februari 2016, merilis foto-foto satelit yang memperlihatkan pembangunan instalasi radar di kepulauan yang menjadi sengketa. REUTERS/CSIS Asia Maritime Transparency Initiative/DigitalGlobe

    TEMPO.COJakarta - Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyiapkan berbagai cara mengantisipasi kemungkinan terburuk akibat ketegangan di wilayah Laut Cina Selatan. 

    "Wilayah ini jadi fokus. Kemungkinan terjadi konflik, maka kami siapkan segala kemungkinan, perkuat pengindraan dan sebagainya," ujar Gatot di Markas Besar TNI di Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu, 18 Mei 2016.

    TNI, Gatot mengatakan, juga akan memperkuat sejumlah pangkalan Angkatan Laut yang berada di sekitar wilayah tersebut untuk sejumlah fungsi. "Ya semua. Pangkalan bukan hanya di Natuna, tapi juga Morotai, Biak, dan Saumlaki. Tempat-tempat terluar," katanya.

    Menurut Gatot, pengembangan pangkalan itu sementara ini diprioritaskan di empat wilayah tersebut. Namun, dia menambahkan, tak tertutup kemungkinan pengembangan dilakukan di tempat lain, bergantung pada dana yang tersedia.

    "Prioritas utama sekarang di Natuna, Morotai, Biak, dan Saumlaki. Tapi, kalau bisa, semua berkembang lagi," tuturnya. "Setelah kami rancang semua baru laporkan kepada pemerintah, ada duit enggak, kan gitu."

    Dalam menghadapi konflik Laut Cina Selatan, Gatot menekankan TNI berpedoman pada kebijakan politik luar negeri pemerintah Indonesia. "Pemerintah sudah mengimbau agar semua negara mewujudkan situasi aman di Laut Cina Selatan dan tak memicu instabilitas karena itu urat nadi ekonomi dunia," ucapnya.

    YOHANES PASKALIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?