Setya Novanto Ketua Golkar, Kader Sebut Badai Sudah Berlalu  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum terpilih Partai Golkar, Setya Novanto dan Sekjen Partai Golkar Idrus Marham mengibarkan bendera partai saat penutupan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar di Nusa Dua, Bali, 17 Mei 2016. Setya Novanto memilih Idrus Marham tetap sebagai Sekretaris Jenderal Partai Golkar. TEMPO/Johannes P. Christo

    Ketua Umum terpilih Partai Golkar, Setya Novanto dan Sekjen Partai Golkar Idrus Marham mengibarkan bendera partai saat penutupan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar di Nusa Dua, Bali, 17 Mei 2016. Setya Novanto memilih Idrus Marham tetap sebagai Sekretaris Jenderal Partai Golkar. TEMPO/Johannes P. Christo

    TEMPO.COBandung - Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, mengklaim masih optimistis dengan masa depan partainya selepas terpilihnya Setya Novanto menjadi Ketua Umum Partai Golkar. “Kemenangan Golkar tidak ditentukan oleh ketua umum, tapi ditentukan oleh kader-kader Golkar,” katanya di Bandung, Rabu, 18 Mei 2016.

    Dedi mengatakan tidak mempersoalkan terpilihnya Setya Novanto menjadi ketua umum. Dia mengaku lebih senang badai politik di partainya itu sudah berlalu. “Yang menjadi kebahagiaan saya, Golkar bisa melewati proses badai yang begitu berat, yaitu Golkar mengalami gejolak internal organisasi yang paling berat dalam sejarahnya,” katanya.

    Menurut Dedi, terbelahnya partai, yang berujung pada Munas Luar Biasa yang menetapkan Setya Novanto sebagai ketua umum, itu menjadi tekanan terberat yang pernah dialami Partai Golkar. “Ini lebih berat dibanding 97-98 ketika mendapat tekanan dari luar. Ini kan konflik dari dalam, kemudian kita bisa melewati itu dengan baik,” katanya.

    Dedi mengaku sudah menerima terpilihnya Setya Novanto. “Kemudian hasilnya itu, kita harus menerima realitas bahwa hasil pemilihannya adalah Pak Novanto. Kalau hasil pemilihannya itu, berarti itulah yang terbaik dalam pandangan kader Golkar,” katanya.

    Menurut Dedi, kepemimpinan Partai Golkar merupakan kepemimpinan kolektif, tidak sebatas pada ketua umum. “Kebaikan Golkar itu ada di Ketua DPD 1 dan 2, ketua kecamatan dan desa, juga semua kader Golkar, baik di pemerintahan maupun legislatif. Ini yang harus menjadi support kita sehingga Golkar menjadi partai yang tidak bergantung pada figur, tapi pada sistem,” katanya.

    Setya Novanto akhirnya terpilih menjadi Ketua Umum Partai Golongan Karya. Keputusan ini diambil dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa Partai Golkar di Nusa Dua, Bali, Selasa, 17 Mei 2016. Setya terpilih setelah pesaingnya, Ade Komarudin, menyatakan mundur sebelum pemilihan putaran kedua dilakukan.

    "Saya masih muda, masih umur 50 tahun. Pak Novanto sudah 60 tahun. Saya rasa masih ada waktu saya ke depan, dan saya akan support Pak Novanto," kata Ade alias Akom di Nusa Dua Convention Center, Bali, Selasa, 17 Mei 2016.

    Sebelumnya, Akom dan Setya masing-masing meraih 173 dan 277 dari total 554 suara. Jumlah ini melewati syarat 30 persen untuk lanjut ke putaran kedua, yaitu 168 suara.

    AHMAD FIKRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berkas yang Diterima dan Dalil yang Ditolak Sidang MK Pra Skors

    Inilah berkas perbaikan Tim Hukum Prabowo - Sandiaga terkait sengketa Pilpres yang diterima dan sejumlah dalil yang ditolak Sidang MK, 27 Juni 2019.