Antisipasi Kerinci Meletus, Jambi Bangun Jalan Evakuasi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Jambi, Zumi Zola, memberikan keterangan pers usai rapat koordinasi tentang pencegahan kebakaran hutan dan lahan di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, 22 Maret 2016. TEMPO/Angelina Anjar Sawitri

    Gubernur Jambi, Zumi Zola, memberikan keterangan pers usai rapat koordinasi tentang pencegahan kebakaran hutan dan lahan di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, 22 Maret 2016. TEMPO/Angelina Anjar Sawitri

    TEMPO.CO, Jambi - Melihat aktivitas Gunung Kerinci yang sering bergolak membuat Pemerintah Provinsi Jambi ingin membangun jalan evakuasi warga bila gunung dengan ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut itu benar-benar meletus.

    "Kami memang sudah punya rencana membangun jalan evakuasi bagi warga Kota Sungaipenuh dan Kabupaten Kerinci untuk menghindari korban jiwa bila Gunung Kerinci meletus," kata Gubernur Jambi Zumi Zola Zulkifli, Jumat, 21 April 2016.

    Menurut Zola, pihaknya sudah menganggarkan dana sebesar Rp 50 miliar untuk membangun jalan sepanjang 45 kilometer tersebut. Hanya, jalan sepanjang itu harus menembus Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS). "Kami sudah merekomendasikan keinginan itu ke Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Diharapkan izin alih fungsi kawasan TNKS cepat keluar," ucapnya.

    Jalan sepanjang sekitar 45 kilometer itu, antara lain, menghubungkan Desa Pauh Tinggi, Kecamatan Kayuaro, serta Desa Batu Hampar dan Desa Betung Mudik, Kecamatan Gunung Kerinci, Kabupaten Kerinci.

    Bupati Kerinci Adi Rozal mengakui bahwa pihaknya sangat mendambakan jalan evakuasi tersebut. "Kami sangat mengharapkan jalan evakuasi ini, apalagi kondisi Gunung Kerinci sejak sebulan lalu berstatus waspada," ujarnya.

    SYAIPUL BAKHORI



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.