Ada Bendera ISIS di Pemakaman Teroris Poso?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah bendera yang mirip ISIS berkibar di lokasi tabligh akbar saat warga menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Kelurahan Sudiang Raya, Kecamatan Biringkanaya, Makassar, 29 Maret 2015. TEMPO/Fahmi Ali

    Sebuah bendera yang mirip ISIS berkibar di lokasi tabligh akbar saat warga menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Kelurahan Sudiang Raya, Kecamatan Biringkanaya, Makassar, 29 Maret 2015. TEMPO/Fahmi Ali

    TEMPO.CO, Surakarta - Ratusan pemuda melayat ke rumah Fonda Amar Sholihin, terduga teroris kelompok Poso yang jenazahnya dipulangkan ke Solo, Jawa Tengah. Mereka juga mengantarkan jenazah saat dibawa ke pemakaman.

    Jenazah Fonda tiba di kediaman orang tuanya di Solo, Jumat pagi, 18 Maret 2016. Setelah disemayamkan di rumah beberapa saat, jenazah dibawa ke masjid untuk disalatkan. Salat jenazah dilakukan dua kali dengan dipimpin Abu Husna serta Sholeh Ibrahim.

    Tidak lama kemudian, jenazah dibawa ke pemakaman muslim di Polokarto, Sukoharjo. Para pemuda yang sebagian besar berjubah itu mengiringi mobil jenazah. Beberapa di antaranya membawa bendera warna hitam yang identik dengan bendera Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

    Juru bicara keluarga, Endro Sudarsono, memprotes cara polisi memulangkan jenazah. "Biasanya jenazah dalam peti sudah menggunakan kafan," katanya. Namun, jenazah Fonda ternyata hanya terbungkus kantong mayat dan dimasukkan ke dalam peti.

    Keluarga juga menemukan beberapa kerusakan fisik di tubuh jenazah selain luka tembak. Keluarga menduga hal itu disebabkan penanganan terhadap jenazah yang tidak memenuhi prosedur.

    Fonda alias Dodo tewas dalam baku tembak antara Satgas Operasi Tinombala dan kelompok bersenjata akhir Februari kemarin. Pemuda berusia 22 tahun itu disebut-sebut sebagai tangan kanan Santoso.

    AHMAD RAFIQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.