Minta Akses, Petani Blokade Jalan Tol Pejagan - Pemalang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pengendara sepeda motor, mutar balik di jalur bebas hambatan (tol) Pejagan-Pemalang, di Banjar Anyar, Jawa Tengah, 26 Juli 2015. H+8 Lebaran, jalur tol Cipali semakin sepi dari pemudik arus balik menuju Jakarta. TEMPO/Imam Sukamto

    Seorang pengendara sepeda motor, mutar balik di jalur bebas hambatan (tol) Pejagan-Pemalang, di Banjar Anyar, Jawa Tengah, 26 Juli 2015. H+8 Lebaran, jalur tol Cipali semakin sepi dari pemudik arus balik menuju Jakarta. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Brebes - Ratusan petani di Desa Sigentong, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, menggelar unjuk rasa di Jalan Tol Pejagan-Pemalang di seksi I (Pejagan-Brebes Barat) Kamis, 10 Maret 2016, yang saat ini sedan dalam pembangunan. Mereka mendesak PT. Pejagan Pemalang Toll Road (PPTR) membuka akses jalan bagi petani yang tertutup proyek tol.

    Dalam aksi tersebut para petani melakukan iring-iringan mobil pikap dan sepeda motor dari Kantor Desa Sigentong menuju jalan usaha tani yang dilintasi jalan tol. Mereka membawa spanduk dan poster berisi desakan kepada pelaksana proyek tol. Para petani juga sempat memblokade jalan tol dengan menanamkan bambu.

    Aksi tersebut juga membuat aktivitas kerja proyek terganggu. Massa sempat bersitegang dengan aparat kepolisian. Namun setelah melalui negosiasi panjang, blokade akhirnya dibuka. Jalur petani itu berada di areal persawahan melintang dari selatan ke utara. Sementara jalur tol Pejagan-Pemalang melintas dari timur ke barat memotong jalur usaha tani. Otomatis, jalur petani terputus.

    Koordinator demo, Fuad Sirajuddin Yahya, mengatakan  tertutupnya jalan tersebut membuat akses usaha tani terputus. Para petani harus berputar lebih jauh sekitar 30 kilometer. "Jalan usaha tani itu sudah ada dari dulu. Kalau terputus petani lewat mana," ujar Fuad.

    Dia mengatakan para petani sebenarnya sudah berusaha meminta PT PPTR untuk membuka jalur petani enam bulan yang lalu. Petani juga sudah meminta bantuan kepada pemerintah kabupaten untuk menyelesaikan masalah ini. Tapi sampai sekarang belum ada titik temu. "Kami hanya minta untuk dibuatkan terowongan di bawah tol, agar aktivitas petani kembali lancar," katanya.

    Raswid, 45 tahun, petani setempat mengatakan jalur tani selebar tiga meter itu biasa digunakan untuk membawa hasil panen. Ada sekitar 50 hektare milik 200 warga Sigentong yang tertutup jalan tol. "Padahal sebentar lagi mau panen." kata sekretaris gabungan kelompok tani (Gapoktan) Sumber Rejeki, Desa Sigentong itu.

    Dia menambahkan, petani mendesak kepada pelaksana proyek tol untuk membuat terowongan di bawah tol dengan ukuran lebar 3 meter tinggi 2,5 meter. "Paling tidak bisa untuk lewat sepeda motor roda tiga," katanya.

    Hingga berita ini ditulis, pihak PT PPTR belum ada yang bisa dihubungi. Namun, Bupati Brebes, Idza Priyanti, saat bertemu dengan petani Sigentong, Rabu, 9 Maret 2016 lalu sempat menghubungi penanggung jawab PT PPTR Mulya Setiawan via telepon. Dalam pembicaraannya, pihak PPTR menjanjikan dalam waktu dekat akan merealisasikan permintaan para petani. Pihak PPTR juga bersedia untuk menemui petani Sigentong pada Kamis, 10 Maret 2016 sore, di Kantor Kecamatan Wanasari.

    MUHAMMAD IRSYAM FAIZ

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.