Jumat, 16 November 2018

FUI: Aksi Anti-LGBT Berlanjut Masuk Kampung

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gerakan Pemuda Ka'bah (GPK) melakukan aksi menolak kelompok Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT) di perempatan Tugu Yogyakarta, 23 Februari 2016. Kelompok GPK melakukan aksi tersebut guna mendukung Fatma MUI. TEMPO/Pius Erlangga

    Gerakan Pemuda Ka'bah (GPK) melakukan aksi menolak kelompok Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT) di perempatan Tugu Yogyakarta, 23 Februari 2016. Kelompok GPK melakukan aksi tersebut guna mendukung Fatma MUI. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Organisasi Forum Umat Islam (FUI) Yogyakarta yang selama ini lantang menolak kesetaraan dan pengakuan pada kaum Lesbian, Gay, Biseks, dan Transgender (LGBT) menyatakan tak akan berhenti menggelar aksi dan kampanye demi menolak LGBT.

    “Kami akan terus menggelar aksi bawah tanah terutama di kampung dan kalangan masyarakat bawah agar pengaruh LGBT ini tak makin meluas karena itu gangguan kejiwaan,” ujar Koordinator FUI Yogyakarta Muhammad Fuad Andreago, Rabu 24 Februari 2016.

    Fuad menyebut, kampanye yang dilakukan kepada masyrakat menolak LGBT itu bukan dengan cara kekerasan. Namun dengan mendorong agar masyarakat luas ikut mengawal kaum LGBT mau dan bersedia untuk berobat ke psikiater karena orientasi seksualnya dinilai sebagai penyakit. “Jangan sampai terlambat pencegahannya, tiba-tiba nanti di sekeliling anak-anak kita, tetangga, ternyata sudah terpengaruh kampaye mereka,” ujarnya.

    Sebelumnya kelompok ini menghadang aksi protes pendukung LGBT di kawasan Tugu Yogyakarta, Selasa petang 23 Februari 2016. Dalam aksi itu FUI nyaris berhadapan dengan massa pendukung LGBT yakni Solidaritas Perjuangan Demokrasi (SPD). Namun tak sampai pecah bentrok. Salah satu peserta aksi SPD yang juga Koordinator Alinasi Nasional Bhineka Tunggal Ika, Agnes Dwi Rusjati menuturkan, tidak ada peserta aksi di kelompoknya yang terkena kekerasan dari massa FUI.

    Namun sempat terlibat aksi dorong dengan kepolisian yang menghalangi mereka menggelar aksi di Tugu. “Aksi yang kami lakukan merupakan hak menyampaikan aspirasi kepada publik, seharusnya tak boleh ada penghadangan oleh aparat kepolisian,” ujar Agnes. Agnes menyatakan jika aksi yang dilakukan kubunya sudah sesuai prosedur yakni melakukan pemberitahuan.

    Justru dengan adalam pro kontra LGBT ini, menurut Agnes, menjadi tantangan pihak kepolisian menegakkan hukum dan aturan yang berlaku. “Sebab Yogya bukan milik satu kelompok,” ujarnya.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga