Teroris Jual Janji Bidadari di Surga, Ini Antisipasi Luhut  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan, Luhut Binsar Pandjaitan, bersama  anggota Mahkamah Kehormatan Dewan  Kahar Muzakir (kanan) memberikan keterangan kepada awak media, di kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, 11 Desember 2015. TEMPO/Imam Sukamto

    Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan, Luhut Binsar Pandjaitan, bersama anggota Mahkamah Kehormatan Dewan Kahar Muzakir (kanan) memberikan keterangan kepada awak media, di kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, 11 Desember 2015. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan turut berkomentar soal iming-iming 72 bidadari bagi para pelaku teror yang mengatasnamakan agama. "Coba minta orang yang suruh teror itu supaya ke langit duluan untuk buktiin ada 72 bidadari," kata Luhut dalam acara seminar ekonomi yang diadakan CIMB Niaga di Ritz-Carlton, Kamis, 4 Februari 2016.

    Luhut menilai terorisme muncul karena adanya tingkat ekonomi masyarakat yang masih rendah. Selain itu, tingginya disparitas ekonomi juga turut menjadi pemicunya. "ISIS terus menawarkan 'one way of life' itu untuk merekrut anggota baru," kata Luhut.

    Untuk memerangi terorisme, kata Luhut, harus ada perbaikan ekonomi di segala sektor. Saat ini, pemerintah terus menggalakkan program ekonomi untuk memperkecil tingkat disparitas ekonomi, seperti program desa, membangun infrastruktur, dan sebagainya. Ia berharap dengan program percepatan ekonomi ini bisa mengurangi angka teror, khususnya di Indonesia.

    Selain itu, Luhut mengatakan perlu adanya pendekatan lunak atau soft approach. Menurut dia, dengan melakukan serangan balik atau hard approach hanya akan sia-sia. Selain itu, selama ini pelaku teror itu biasanya sudah dicuci otaknya melalui pendekatan agama dan akan sulit jika lewat kekerasan.

    Dengan soft approach, Luhut mengatakan akan melakukan pendekatan melalui berbagai lembaga agama, seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nadlatul Ulama (NU), atau Muhammadiyah supaya lebih mengatasi masalah terorisme. "Deradikalisasi harus tetap berjalan," kata Luhut.

    Saat ini, pemerintah juga mulai memberikan perhatian khusus terhadap tahanan teroris di Nusa Kambangan. Saat ini, tahanan teroris dibagi ke dalam tiga kelompok, yakni kelompok ideolog, militan, dan simpatisan. "Hal ini dilakukan agar tidak terjadi lecturing selama dalam tahanan," ujar Luhut.

    LARISSA HUDA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.