Panci Berlafal 'Alhamdu Allah', Cuma Strategi Pemasaran?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Panci bertuliskan bahasa Arab

    Panci bertuliskan bahasa Arab "Alhamdu Allah" ditemukan di sejumlah pasar di Jember. ANTARA/Zumrotun Solichah

    TEMPO.COTrenggalek - Peredaran panci berlafal 'Alhamdu Allah' di sejumlah daerah mendapat kecaman dari kalangan pengusaha panci sendiri. Mereka menduga hal itu sebagai manuver pemasaran produsen untuk menggaet konsumen muslim.

    Kritikan ini disampaikan Muhammad Nur Arifin, pemilik tempat usaha panci besar di Trenggalek, Jawa Timur. Ia menduga pemasangan lafal tersebut tak lebih dari strategi marketing dari produsen panci semata. “Dianggapnya sesuatu yang berkaligrafi asma Allah itu bisa laku di basis konsumen muslim,” katanya, Kamis, 28 Januari 2016.

    Baca: Panci Berlafal 'Alhamdu Allah' Ada di 9 Kecamatan di Jember

    Sebagai sesama produsen panci, Arifin menilai cara-cara seperti itu kurang bijak dan tidak sensitif. Sebab, masih banyak cara yang bisa dilakukan tim marketing untuk memasarkan produknya tanpa menjual lafal Allah. Hal ini sekaligus membuka fakta masih banyaknya pengusaha yang berpikiran sempit dalam menjalankan usaha mereka.

    Bos panci yang baru saja terpilih sebagai Wakil Bupati Trenggalek bersama suami artis Arumi Bachsin, Emil Elestianto Dardak, ini meminta aparat keamanan menarik peredaran panci tersebut agar tak menimbulkan keresahan masyarakat. Apalagi wilayah edarnya banyak menyasar kawasan tapal kuda yang merupakan basis umat Islam. “Semoga aparat yang berwenang bisa segera merespons,” katanya.

    Panci-panci berlafal 'Alhamdu Allah' ini terakhir ditemukan di sembilan kecamatan di Kabupaten Jember. Kepolisian setempat telah mengamankan sedikitnya 200 panci dari pemilik toko yang diketahui dikirim dari Pasuruan. Untuk meredam gejolak masyarakat, polisi telah merazia sejumlah pasar tradisional dan distributor untuk menghentikan peredaran panci tersebut.

    HARI TRI WASONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.