Pendakwah Gafatar Terjaring Razia Pelabuhan Dwikora  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga melihat tabloid Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara) terbitan 2014 di Jombang, Jawa Timur, 13 Januari 2016. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan inti ajaran Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) adalah hendak menyatukan agama-agama Ibrahim, yakni Islam, Yahudi, dan Kristiani. ANTARA/Syaiful Arif

    Warga melihat tabloid Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara) terbitan 2014 di Jombang, Jawa Timur, 13 Januari 2016. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan inti ajaran Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) adalah hendak menyatukan agama-agama Ibrahim, yakni Islam, Yahudi, dan Kristiani. ANTARA/Syaiful Arif

    TEMPO.COPontianak - Dua pengikut Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) terjaring razia penumpang kapal di Pelabuhan Dwikora, Pontianak, Sabtu, 16 Januari 2016. Dari salah satu pengikut Gafatar ditemukan buku pedoman ajaran Theologi Abraham.

    "Razia dilakukan mengingat jalur laut selalu ditempuh oleh orang yang tidak ingin identitasnya diketahui," kata Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat Brigadir Jenderal Polisi Arief Sulistyanto. Razia digelar mulai pukul 10.30 sampai 12.00 WIB, dipimpin langsung oleh Wakil Kepala Kepolisian Resor Kota Pontianak Ajun Komisaris Besar Polisi Veris Septiansyah.

    Dua pengikut Gafatar tersebut menggunakan kapal motor Bukit Raya dengan rute Surabaya-Pontianak. Pada tanda pengenal, tercatat nama Selamet Muldoon, 49 tahun, warga Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Seorang lagi bernama Zainudin, 23 tahun, warga Dusun Nglanjur, Tugusumberjo, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

    "Dari barang bawaan orang-orang tersebut, ditemukan buku-buku ajaran aliran Gafatar, dan mereka mengakui pengikut aliran tersebut," ujar Arief. Adapun tujuan keduanya ke Kalimantan Barat adalah bekerja di salah satu perkebunan sawi di Kabupaten Sintang.

    Veris Septiansyah mengatakan polisi masih mendalami keterangan dua pengikut Gafatar tersebut. "Selamet mengaku bergabung sejak tahun 2006 dan keluar tahun 2011. Dia mengaku di Kalimantan Barat akan menemui Wahyudi," tuturnya. 

    Wahyudi, dari data kontak Selamet, tertulis sebagai Komandan Batalyon. Wahyudi berada di Kabupaten Mempawah. Misi kedatangan Selamet adalah sebagai pendakwah. "Lantaran sudah ada enam keluarga di Kecamatan Sosok, Kabupaten Sanggau, yang telah keluar dari Gafatar," ucapnya. Atas perintah Wahyudi, yang bersangkutan diamanatkan untuk kembali memberi “pencerahan” kepada enam keluarga tersebut.

    Secara terpisah, Zainudin mengatakan bahwa kedatangannya ke Kalimantan Barat karena ajakan Selamet. "Zainudin rencananya bekerja di lahan milik Selamet, jadi dia rekrutan baru," katanya. Dari keduanya, polisi mendapati buku-buku, flash disk, leaflet visi-misi Gafatar, dan buku Theologi Abraham berjudul Membangun Kemajuan Iman Yahudi, Kristen, dan Islam.

    "Hasil pemeriksaan Tim Penjinak Bom, pada hard copy tentang kelistrikan dan elektronik dasar tidak ditemukan petunjuk yang mengarah pada switching cara merangkai bom," ujarnya.

    ASEANTY PAHLEVI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.