TKI Banyuwangi di Taiwan Rawan Meningitis  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebanyak 450 WNI dan TKI undocumented yang dipulangkan pemerintah Indonesia dari Arab Saudi melalui Kementerian Luar Negeri tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, 11 November 2015. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Sebanyak 450 WNI dan TKI undocumented yang dipulangkan pemerintah Indonesia dari Arab Saudi melalui Kementerian Luar Negeri tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, 11 November 2015. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Banyuwangi – Ketua Ikatan Keluarga Banyuwangi Taiwan, Krisna Adi, mengatakan tenaga kerja Indonesia di Taiwan rawan terkena penyakit pada bagian otak. Dalam enam bulan terakhir, sedikitnya tiga tenaga kerja wanita asal Banyuwangi terkena gangguan pada otak, bahkan dua di antaranya meninggal.

    Kasus terbaru adalah yang menimpa Emi Rusmiyati, yang meninggal pada Senin malam, 4 Januari 2016. Perempuan Dusun Kedung Agung, Desa Sambirejo, Kecamatan Bangorejo, tersebut dirawat di Rumah Sakit Li Shin Iyen Chungli, Taiwan, sejak 29 Desember 2015, karena menderita radang selaput otak atau meningitis.

    Emi terakhir kali berkomunikasi dengan keluarganya pada 3 Januari. Setelah itu kondisinya terus memburuk. Emi juga terkena gagal ginjal hingga harus cuci darah sebanyak dua kali. Anak Emi di Banyuwangi, Yuli Antika, sudah memutuskan akan membawa pulang ibunya itu. Namun sekitar pukul 18.00 WIB, Emi dikabarkan mengembuskan napas terakhir.

    Pada September 2015, Sholihatun, asal Desa Sumber beras, Kecamatan Muncar, dirawat di Rumah Sakit (RS) Thai Ta Iyen, Taipei. Dia akhirnya meninggal setelah kritis karena mengalami pembengkakan otak. 

    Masih di bulan September, TKW lain bernama Sugiayem asal Dusun Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, sempat koma selama empat bulan karena ada tumor di bagian otaknya. Sugiayem akhirnya berhasil disembuhkan setelah dibawa pulang ke Banyuwangi dan ditangani tim dokter Rumah Sakit Umum Daerah Blambangan.

    Krisna Adi mensinyalir, TKI di Taiwan rawan terkena gangguan pada otak karena dampak radiasi telepon seluler. Sebab ketergantungan TKI terhadap ponsel sangat tinggi. Bahkan banyak TKI yang memiliki empat-lima ponsel sekaligus. “Saat tidur mereka juga mengaktifkan telepon genggam,” katanya.

    Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Banyuwangi Alam Sudrajat mengaku belum mengetahui penyebab pasti gangguan otak yang diderita TKI di Taiwan. Menurut dia, Dinas sebatas memfasilitasi kepulangan jenazah TKI maupun membantu perawatan TKI yang kritis di luar negeri. “Kami masih berkoordinasi dengan BNP2TKI untuk memulangkan Emi Rusmiyati,” katanya.

    IKA NINGTYAS


  • TKI
  •  

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.